Stok AS Menyusut, Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam

S Sawalika 29 Jul 2026 0 dilihat 4 menit baca

Harga minyak mentah dunia kembali bergejolak dalam beberapa pekan terakhir. Kombinasi antara menyusutnya cadangan minyak Amerika Serikat dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah membuat pasar energi global diliputi ketidakpastian. Fluktuasi harga yang tajam ini bukan hanya menjadi perhatian para pelaku pasar, tetapi juga berpotensi memengaruhi harga bahan bakar dan laju inflasi di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) secara rutin merilis laporan mingguan mengenai perubahan stok minyak mentah negara tersebut, dan angka ini kerap menjadi salah satu penggerak utama harga minyak dunia. Dalam beberapa pekan terakhir, laporan EIA <cite index="3-1">menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah Amerika Serikat turun 1,7 juta barel dalam sepekan</cite>, meski penurunan tersebut sebenarnya lebih kecil dari perkiraan analis yang sempat memproyeksikan penurunan hingga 2,6 juta barel.

Menariknya, meski stok minyak mentah menyusut, persediaan produk turunan seperti solar dan minyak pemanas justru mengalami <cite index="3-1">kenaikan sebesar 4,6 juta barel dalam sepekan, jauh melampaui perkiraan pasar</cite> yang hanya memproyeksikan kenaikan tipis. Kondisi campuran semacam ini membuat sejumlah analis menilai bahwa <cite index="3-1">pasokan minyak, alih-alih terus menyusut secara agresif, tampak mulai bergerak ke arah yang lebih stabil</cite>.

Namun demikian, ketatnya persediaan tetap menjadi kekhawatiran mendasar. Seorang analis senior dari Price Futures Group menilai <cite index="4-1">bahwa secara keseluruhan persediaan minyak masih relatif ketat, dan situasi ini bisa berubah cepat sehingga perlu terus dicermati</cite>.

Faktor yang tidak kalah penting dalam lonjakan harga minyak adalah eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran. Pada pertengahan hingga akhir Juli 2026, serangan udara AS terhadap sejumlah fasilitas di Iran memicu kekhawatiran besar terhadap gangguan pasokan energi yang melintasi Selat Hormuz — jalur pelayaran vital yang sebelum konflik pecah <cite index="3-1">dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia</cite>.

Akibat eskalasi ini, harga minyak sempat melonjak tajam. Pada 20 Juli 2026, <cite index="1-1">harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman September naik sekitar 2,77 persen hingga menembus level 90 dolar AS per barel</cite>. Bahkan dalam sepekan, harga sempat naik hampir 10 persen dan sesaat menyentuh level mendekati 100 dolar AS per barel, didorong oleh saling serang rudal antara kedua negara, terganggunya lalu lintas kapal di Selat Hormuz, serta serangan kelompok Houthi Yaman terhadap kapal-kapal di Laut Merah.

Seorang mitra di Again Capital menggambarkan situasi pasar yang penuh kewaspadaan namun tetap berharap ada jalan damai, sementara analis lain menegaskan bahwa kondisi persediaan yang ketat membuat pasar sangat rentan terhadap kejutan baru.

Meski sempat melesat tajam, harga minyak dunia juga menunjukkan volatilitas ke arah sebaliknya. Pada akhir Juli 2026, harga anjlok signifikan setelah Amerika Serikat menghentikan sementara serangan udaranya terhadap Iran demi membuka peluang penyelesaian diplomatik. Harga minyak mentah Brent <cite index="2-1">turun 8,42 dolar AS atau 8,7 persen menjadi 88,36 dolar AS per barel</cite>, level terendah sejak pertengahan Juli. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS <cite index="2-1">merosot 6,70 dolar AS atau 7,5 persen menjadi 82,61 dolar AS per barel</cite>.

Penurunan tajam ini mencerminkan bagaimana sensitifnya pasar minyak terhadap sentimen geopolitik, di mana harapan akan meredanya konflik dapat dengan cepat membalikkan arah pergerakan harga, bahkan di tengah kondisi stok yang masih relatif ketat.

Lonjakan harga minyak dunia yang berkepanjangan berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap ekonomi global. Harga energi yang tinggi dapat mendorong tekanan inflasi, meningkatkan biaya produksi, serta memengaruhi kebijakan suku bunga bank sentral. Bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak, kenaikan harga minyak dunia berisiko menambah beban subsidi energi dan berpotensi mendorong penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) domestik.

Ke depan, pasar diperkirakan akan terus mencermati dua faktor utama: perkembangan data mingguan persediaan minyak AS dari EIA, dan dinamika hubungan AS-Iran yang masih berpotensi memanas sewaktu-waktu. Selama ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah belum benar-benar mereda, volatilitas harga minyak dunia diperkirakan akan terus mewarnai pasar energi global dalam waktu dekat.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
S

Ditulis oleh

Sawalika

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait