Suku Bunga AS Batal Turun, Indeks Saham Asia Diprediksi Terkoreksi

S Sawalika 07 Agu 2026 0 dilihat 4 menit baca

Harapan pelaku pasar global terhadap pemangkasan suku bunga Amerika Serikat kembali kandas. Bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), resmi memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50–3,75 persen setelah menggelar pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) selama dua hari pada 28–29 Juli 2026. Keputusan ini merupakan yang kelima berturut-turut sejak awal tahun, sejak The Fed terakhir kali memangkas suku bunga pada Desember 2025.

Yang membuat keputusan kali ini semakin menarik perhatian pasar adalah hasil pemungutan suara internal The Fed yang tidak bulat. Dari sembilan belas anggota FOMC, keputusan menahan suku bunga hanya didukung sembilan suara berbanding tiga suara penolakan. Tiga pejabat yang menolak keputusan tersebut, yaitu Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack, Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari, dan Presiden The Fed Dallas Lorie Logan, justru mendorong agar suku bunga dinaikkan, bukan malah dipangkas seperti yang banyak diharapkan investor sebelumnya.

Perpecahan suara ini mengindikasikan bahwa sejumlah pejabat The Fed mulai mengkhawatirkan tekanan inflasi yang belum sepenuhnya mereda. Meski inflasi tahunan AS sempat melandai ke level 3,5 persen pada Juni, angka tersebut masih jauh di atas target jangka panjang The Fed sebesar 2 persen. Sejumlah faktor turut menambah kekhawatiran inflasi, mulai dari memanasnya kembali konflik antara AS dan Iran yang mendorong kenaikan harga minyak dunia, rencana tarif impor baru dari pemerintahan Presiden Donald Trump, hingga pesatnya pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan yang mendongkrak permintaan chip, server, dan perangkat jaringan.

Sebelum pengumuman resmi, data dari CME FedWatch Tool sebenarnya memperlihatkan mayoritas pelaku pasar—sekitar 62 hingga 66 persen—telah memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga. Namun, peluang kenaikan suku bunga sempat meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir, dari yang semula hanya sekitar 12 persen menjadi 34–37 persen, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap sikap yang lebih hawkish dari bank sentral AS.

Begitu keputusan diumumkan, bursa saham Wall Street langsung merespons dengan koreksi tajam. Indeks-indeks utama di AS kompak ditutup melemah pascapengumuman The Fed tersebut, mencerminkan kekecewaan investor yang sebelumnya berharap adanya sinyal pelonggaran kebijakan moneter menjelang akhir tahun.

Sentimen negatif dari Wall Street tersebut kemudian menjalar dengan cepat ke bursa-bursa saham di kawasan Asia. Indeks Kospi di Korea Selatan menjadi salah satu yang paling terpukul, anjlok hingga sekitar 6 persen dalam perdagangan pascapengumuman The Fed. Pelemahan tajam ini melanjutkan gejolak yang sudah terjadi beberapa hari sebelumnya, ketika Kospi bahkan sempat ambruk lebih dari 8 persen dan memicu penghentian perdagangan otomatis (circuit breaker) di Bursa Korea, dipicu aksi jual besar-besaran pada saham-saham teknologi seperti Samsung Electronics dan SK Hynix.

Indeks Nikkei 225 di Jepang turut mengalami tekanan, bergerak melemah seiring investor global mengalihkan portofolio ke aset yang dianggap lebih aman. Sementara itu, indeks Hang Seng di Hong Kong relatif lebih tahan terhadap gejolak dibandingkan indeks-indeks lain di kawasan, meski tetap berada dalam tekanan jual.

Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga tidak luput dari dampak sentimen global tersebut. Pada penutupan perdagangan Rabu, 29 Juli 2026, IHSG melemah 0,64 persen ke level 6.091,39. Pelemahan ini berkorelasi langsung dengan aksi jual bersih besar-besaran oleh investor asing di pasar reguler yang mencapai sekitar Rp183 miliar.

Meski demikian, sejumlah analis pasar modal masih melihat adanya peluang pembalikan arah dalam waktu dekat. Analis dari BNI Sekuritas, misalnya, memproyeksikan IHSG berpotensi mengalami rebound teknikal, dengan level support diperkirakan berada pada rentang 6.030 hingga 6.087, sementara area resistance berada di kisaran 6.110 hingga 6.170.

Ke depan, perhatian pelaku pasar tidak hanya tertuju pada keputusan suku bunga itu sendiri, melainkan juga pada nada komunikasi yang disampaikan Ketua The Fed dalam konferensi pers pascapertemuan. Sinyal yang lebih hawkish berpotensi memperpanjang tekanan terhadap bursa saham Asia dalam beberapa pekan mendatang, sementara sinyal yang lebih netral atau dovish dapat membantu meredakan kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan moneter AS pada sisa tahun 2026.

Bagi investor di kawasan Asia, termasuk Indonesia, situasi ini menjadi pengingat bahwa arah kebijakan The Fed tetap menjadi salah satu variabel paling menentukan pergerakan pasar keuangan global. Penguatan dolar AS yang biasanya menyertai sikap hawkish The Fed juga berpotensi menambah tekanan terhadap mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah, dalam waktu dekat.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
S

Ditulis oleh

Sawalika

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait