JAKARTA – Dunia pendidikan kembali berduka. Insiden penembakan massal terjadi di Sekolah Debsirin Nonthaburi, Distrik Bang Kruai, Provinsi Nonthaburi, Thailand. Aksi kejam yang dilancarkan oleh seorang siswa laki-laki berusia 14 tahun tersebut menyebabkan sedikitnya sembilan orang tewas serta puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Peristiwa berdarah ini terjadi pada Jumat (7/8/2026) pagi sekitar pukul 10.00 waktu setempat saat aktivitas belajar mengajar tengah berlangsung. Pelaku, yang tercatat sebagai siswa kelas 9 (Mathayom 3) di sekolah tersebut, mendadak melepaskan tembakan secara beruntun menggunakan senjata api ke arah guru dan rekan-rekan sesama siswa.
Kronologi Kejadian dan Korban Jiwa
Berdasarkan keterangan pihak kepolisian lokal, pelaku mendatangi sekolah dengan membawa senjata api milik kakeknya. Pelaku diketahui melepaskan sedikitnya 26 kali tembakan yang memicu kepanikan luar biasa di lingkungan sekolah. Suara ledakan tembakan membuat para siswa dan staf pengajar berlarian menyelamatkan diri.
Tragedi ini menelan korban jiwa dari berbagai pihak. Korban tewas terdiri dari lima orang guru dan staf administrasi sekolah, seorang siswi berusia 12 tahun yang sempat dirawat sebelum akhirnya meninggal dunia, serta kakek dan nenek dari pelaku sendiri.
Fakta memilukan terungkap saat polisi menggeledah kediaman pelaku. Sebelum melancarkan aksinya di sekolah, remaja tersebut terlebih dahulu menembak kakek dan neneknya hingga tewas di rumah mereka yang terkunci dari dalam. Setelah melakukan aksi penembakan massal di lingkungan sekolah, pelaku mengakhiri hidupnya sendiri di tempat kejadian. Selain korban tewas, sebanyak 26 orang mengalami luka-luka, di mana beberapa di antaranya berada dalam kondisi kritis dan langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Motif dan Isu Perundungan (Bullying)
Meski penyelidikan kepolisian Thailand masih terus berjalan, dugaan awal mengarah pada tekanan psikologis serta perundungan berulang yang dialami oleh pelaku. Berdasarkan keterangan sejumlah saksi dan rekan sekolah, pelaku dikenal sebagai pribadi yang sangat pendiam, sopan, serta tidak memiliki banyak teman.
Namun, beberapa hari sebelum kejadian, pelaku dilaporkan sempat dikurung oleh siswa lain dan kerap menjadi sasaran bullying di lingkungan sekolah. Polisi menduga akumulasi kekecewaan dan tekanan mental tersebut memicu amarah pelaku hingga nekat melancarkan aksi nekat menggunakan senjata api yang diambil dari kakeknya.
Respon Pemerintah dan Kepemilikan Senjata
Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menyampaikan rasa duka yang mendalam serta keterkejutannya atas insiden berdarah di lingkungan pendidikan ini. Pemerintah Thailand berjanji akan memperketat pengawasan serta regulasi terkait kepemilikan senjata api di tingkat sipil.
Tragedi ini kembali menyoroti tingginya angka kepemilikan senjata api di Thailand. Menurut data Small Arms Survey, Thailand diperkirakan memiliki lebih dari 10 juta pucuk senjata api yang beredar di masyarakat sipil. Kasus ini memicu desakan publik agar pemerintah segera mereformasi aturan kepemilikan senjata guna mencegah tragedi serupa terulang kembali di masa depan.