Waspada Demam Berdarah di Musim Pancaroba, Kenali Gejala dan Cara Pencegahannya

D Dina 06 Jun 2026 10 dilihat 3 menit baca

Musim pancaroba atau peralihan dari musim hujan ke musim kemarau seringkali membawa berbagai masalah kesehatan. Salah satu yang paling perlu diwaspadai adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). Penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ini dapat menyerang siapa saja, tanpa memandang usia. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa kasus DBD cenderung meningkat setiap kali pergantian musim. Pada tahun lalu saja, tercatat lebih dari 100.000 kasus DBD di Indonesia dengan angka kematian mencapai 800 jiwa. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, menjadikan DBD sebagai salah satu masalah kesehatan masyarakat yang serius.

Gejala DBD yang perlu Anda kenali antara lain:

  • Demam tinggi mendadak hingga 40°C yang berlangsung 2-7 hari, sering disebut demam "saddleback" (turun lalu naik lagi)

  • Sakit kepala hebat, terutama di bagian dahi

  • Nyeri di belakang mata, terutama saat menggerakkan bola mata

  • Nyeri otot dan sendi yang terasa seperti tulang remuk

  • Ruam kemerahan di kulit yang muncul setelah demam beberapa hari

  • Mual dan muntah, bahkan nyeri perut yang hebat

  • Pada kasus parah, terjadi pendarahan seperti mimisan atau gusi berdarah

  • Syok yang mengancam jiwa dengan tanda tekanan darah turun drastis dan nadi teraba lembut

Jika sudah sampai tahap syok, angka kematian bisa mencapai 20 persen jika tidak segera ditangani. Oleh karena itu, mengenali gejala sejak dini sangatlah penting.

Langkah pencegahan DBD yang paling efektif adalah dengan menerapkan prinsip 3M Plus berikut ini:

  • Menguras tempat penampungan air secara rutin minimal seminggu sekali, termasuk bak mandi, drum, toren air, dan vas bunga, lalu digosok dengan sabun agar telur nyamuk tidak menempel

  • Menutup rapat semua wadah yang dapat menampung air seperti ember, tong sampah, dan tempayan

  • Mendaur ulang atau mengubur barang-barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, seperti ban bekas, kaleng, dan botol plastik

  • Menggunakan lotion anti nyamuk saat beraktivitas di luar ruangan

  • Memasang kawat kasa di jendela dan ventilasi rumah

  • Menanam tanaman pengusir nyamuk seperti lavender, serai, atau zodia

  • Memelihara ikan pemakan jentik seperti ikan cupang atau ikan kepala timah di kolam atau bak air

  • Menggerakkan masyarakat dalam program Juru Pemantau Jentik (Jumantik) di setiap RT dan RW

Pemerintah juga terus menggalakkan program fogging atau pengasapan di daerah endemis, meskipun metode ini hanya membunuh nyamuk dewasa dan tidak efektif terhadap jentik. Oleh karena itu, peran aktif masyarakat jauh lebih penting. Kunci utama pencegahan DBD adalah kesadaran kolektif untuk menjaga kebersihan lingkungan. Jangan tunggu ada tetangga yang sakit baru bergerak. Fogging sebaiknya dilakukan hanya ketika ada kejadian luar biasa atau sudah ada korban, karena penggunaan insektisida yang berlebihan justru dapat menyebabkan nyamuk menjadi kebal.

Jika Anda atau anggota keluarga mengalami gejala DBD, segera periksakan ke fasilitas kesehatan terdekat. Jangan menunggu hingga demam turun drastis atau muncul tanda bahaya seperti pendarahan. Penanganan dini sangat menentukan kesembuhan. Ingat, tidak ada obat khusus untuk DBD, sehingga perawatan difokuskan pada pemenuhan cairan dan pemantauan trombosit. Minumlah air putih yang banyak, minimal 2-3 liter per hari, karena dehidrasi adalah komplikasi paling umum. Konsumsi juga makanan bergizi seperti bubur, sup, dan jus buah. Jangan pernah memberikan aspirin atau ibuprofen karena dapat memperparah pendarahan. Parasetamol adalah obat yang aman untuk menurunkan demam.

Dengan kewaspadaan dan tindakan pencegahan yang tepat, kita dapat meminimalkan risiko terkena DBD. Jaga lingkungan, jaga kesehatan, dan jangan lupa istirahat cukup agar daya tahan tubuh tetap prima. Musim pancaroba bukanlah musim yang menakutkan jika kita siap menghadapinya. Mari mulai dari diri sendiri, bersihkan halaman, periksa selokan, dan laporkan jika ada tetangga yang sedang demam agar cepat ditangani. Satu nyamuk dapat menggigit banyak orang, dan satu jentik yang dibiarkan bisa menjadi ribuan nyamuk dalam waktu singkat. Ayo, bersama kita cegah DBD.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
D

Ditulis oleh

Dina

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

Gaya Hidup Clean Eating dan Nutrisi Lokal: Solusi Masyarakat Urban Cegah Penyakit Tidak Menular

Gaya Hidup Clean Eating dan Nutrisi Lokal: Solusi Masyarakat Urban Cegah Penyakit Tidak Menular

Tren gaya hidup sehat masyarakat Indonesia di tahun 2026 mengalami pergeseran positif. Kesadaran akan bahaya Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung mendorong meningkatnya popularitas pola makan berbasis bahan pangan utuh ( clean eating ) serta pemanfaatan...

16 Okt 2026

Menjaga Keseimbangan Jiwa dan Raga: Tren Mental Wellness Jadi Prioritas Gaya Hidup Masyarakat Modern 2026

Menjaga Keseimbangan Jiwa dan Raga: Tren Mental Wellness Jadi Prioritas Gaya Hidup Masyarakat Modern 2026

Kesadaran masyarakat Indonesia terhadap pentingnya menjaga kesehatan mental ( mental health ) kini mencapai titik tertinggi. Jika beberapa tahun lalu topik kesehatan jiwa masih dianggap tabu atau sekadar isu sampingan, di tahun 2026 ini, mental wellness telah bertransformasi menjadi bagian...

15 Okt 2026

Kementerian Kesehatan Perkuat Layanan Kesehatan Primer dan Program Imunisasi Nasional Guna Tingkatkan Kualitas Hidup Masyarakat Indonesia

Kementerian Kesehatan Perkuat Layanan Kesehatan Primer dan Program Imunisasi Nasional Guna Tingkatkan Kualitas Hidup Masyarakat Indonesia

JAKARTA — Kementerian Kesehatan Republik Indonesia terus mengakselerasi transformasi sistem kesehatan nasional demi memberikan perlindungan medis yang merata, efisien, dan berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia. Salah satu pilar utama yang menjadi fokus perhatian pemerintah saat ini adalah penguatan layanan kesehatan...

12 Okt 2026

Kekhawatiran Global terhadap Wabah Pneumonia Misterius di Siberia Terus Meningkat Seiring Pemantauan Intensif dari Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Organisasi Kesehatan Dunia

Kekhawatiran Global terhadap Wabah Pneumonia Misterius di Siberia Terus Meningkat Seiring Pemantauan Intensif dari Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Organisasi Kesehatan Dunia

Kekhawatiran global terhadap kasus pneumonia misterius yang menimpa seorang peneliti di Siberia terus berlanjut. Hingga 11 Oktober 2026, sekitar 200 orang yang memiliki kontak dekat dengan korban masih berada dalam pemantauan medis intensif, sementara Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Organisasi...

11 Okt 2026