Yield Obligasi AS Meroket, Bitcoin Masih Terjebak di Zona Merah

S Sawalika 05 Sep 2026 1 dilihat 4 menit baca

Pasar keuangan global tengah menghadapi tekanan baru setelah imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari satu tahun terakhir. Kenaikan ini membuat investor semakin berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin, yang sejak awal Agustus 2026 tampak kesulitan keluar dari zona merah dan terjebak dalam pergerakan mendatar di kisaran US$63.000-an.

Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun sempat menembus kisaran 4,7 persen, level tertinggi sejak awal 2025. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena tenor 30 tahun bahkan melonjak ke atas 5 persen, menyentuh titik tertinggi sejak sebelum krisis finansial global 2007-2008. Sementara itu, yield tenor 2 tahun yang lebih sensitif terhadap ekspektasi suku bunga jangka pendek juga naik ke sekitar 4,24 persen.

Lonjakan ini dipicu oleh sejumlah faktor yang saling bertumpuk. Pertama, pasar mulai meragukan komitmen Ketua Federal Reserve terhadap pengendalian inflasi setelah pernyataannya yang menyebut otoritas moneter "tidak memiliki tongkat sihir" untuk segera menekan laju kenaikan harga. Kedua, besarnya penerbitan surat utang baru pemerintah AS untuk membiayai defisit fiskal yang terus melebar membuat pasokan Treasury membanjiri pasar, sementara basis pembeli tradisional seperti bank sentral asing tidak lagi menyerap sebanyak sebelumnya. Ketiganya, kenaikan harga minyak dunia dan meningkatnya ketegangan geopolitik turut memicu ekspektasi bahwa The Fed mungkin perlu mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka kemungkinan kenaikan lanjutan alih-alih pemangkasan.

Fenomena ini secara teknikal disebut bear steepening, yakni kondisi ketika yield jangka panjang naik lebih cepat dibandingkan yield jangka pendek. Term premium, yaitu kompensasi tambahan yang diminta investor untuk memegang obligasi jangka panjang, kini sudah berada di zona positif setelah bertahun-tahun berada di teritori negatif. Sejumlah analis bahkan memproyeksikan yield 10 tahun berpotensi mendekati 5,8 persen pada 2027 apabila tren kenaikan term premium terus berlanjut.

Di tengah gejolak pasar obligasi tersebut, Bitcoin justru menunjukkan performa yang jauh dari kata bertenaga. Setelah sempat mencatat kenaikan sekitar 7,5 hingga 11,5 persen sepanjang Juli 2026, mata uang kripto terbesar di dunia ini kehilangan momentum begitu memasuki Agustus. Per pertengahan Agustus, harga Bitcoin bertahan di kisaran US$63.000-an, turun sekitar 1,3 persen dalam sepekan terakhir dan masih gagal menembus level resistance psikologis di US$64.000–US$65.000.

Kapitalisasi pasar Bitcoin kini berada di sekitar US$1,27 triliun, sementara total kapitalisasi pasar kripto global bertahan di kisaran US$2,18 triliun. Data inflasi konsumen (CPI) AS untuk Juli yang dirilis pertengahan Agustus tercatat nyaris tidak berubah, dengan inflasi inti justru sedikit melandai ke 2,5 persen. Sayangnya, data yang seharusnya bisa menjadi katalis positif ini dinilai belum cukup kuat untuk mengangkat sentimen pasar kripto secara signifikan.

Salah satu penyebab utama lesunya Bitcoin adalah melambatnya arus masuk dana ke ETF Bitcoin spot. Beberapa laporan mencatat aliran dana mingguan ke ETF tersebut turun tajam, bahkan melemah drastis dibandingkan puncaknya pada Juli. Perlambatan pembelian institusional ini memperlemah dukungan harga di pasar, sehingga Bitcoin kehilangan salah satu penopang utama reli sebelumnya.

Yield obligasi yang tinggi juga secara langsung menekan daya tarik aset berisiko seperti Bitcoin. Ketika investor bisa memperoleh imbal hasil yang relatif aman dan menarik dari Treasury AS, insentif untuk menanggung risiko volatilitas tinggi di pasar kripto pun berkurang. Kenaikan yield pada dasarnya menaikkan discount rate yang digunakan untuk menilai aset-aset masa depan, sehingga aset spekulatif seperti Bitcoin menjadi kurang menarik secara relatif dibandingkan instrumen berpendapatan tetap.

Sejumlah analis menilai pergerakan Bitcoin ke depan akan sangat bergantung pada arah kebijakan The Fed serta data ekonomi AS berikutnya, khususnya laporan ketenagakerjaan dan inflasi menjelang pertemuan bank sentral pada September. Jika yield riil mulai turun atau arus dana ETF kembali positif, Bitcoin berpeluang melanjutkan pemulihan menuju level US$66.000 ke atas. Sebaliknya, apabila tekanan di pasar obligasi terus berlanjut dan sentimen risk-off menguat, level support di kisaran US$61.000 hingga US$60.000 berpotensi kembali diuji.

Bagi investor, kombinasi antara yield obligasi yang meroket dan Bitcoin yang masih tertahan di zona merah ini menjadi pengingat bahwa pasar aset berisiko dan pasar obligasi kini bergerak dalam hubungan yang semakin erat. Ke depan, arah kebijakan suku bunga The Fed serta perkembangan defisit fiskal AS akan menjadi penentu utama, baik bagi nasib pasar obligasi maupun harapan pemulihan harga Bitcoin.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
S

Ditulis oleh

Sawalika

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

Menembus Pasar Global: Strategi Branding dan Akses Pembiayaan Digital Bawa UMKM Indonesia Naik Kelas

Menembus Pasar Global: Strategi Branding dan Akses Pembiayaan Digital Bawa UMKM Indonesia Naik Kelas

Di tengah ketatnya persaingan ekonomi global 2026, segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Indonesia mulai menunjukkan taringnya di ranah internasional. Jika sebelumnya fokus bisnis lokal sebatas pemenuhan pasar domestik, kini kombinasi strategi digital branding yang tepat serta terbukanya akses...

16 Okt 2026

buatkan saya berita dengan kategori bisnis minimal 500 kata untuk portal berita saya

buatkan saya berita dengan kategori bisnis minimal 500 kata untuk portal berita saya

JAKARTA — Lanskap bisnis Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia tengah mengalami pergeseran fundamental. Jika beberapa tahun lalu adopsi teknologi digital oleh pelaku usaha lokal baru sebatas pemanfaatan media sosial dan dompet digital (E-Wallet), kini teknologi Kecerdasan Buatan...

15 Okt 2026

Transformasi Industri Kuliner Lokal Strategi Pemasaran Digital dan Adaptasi Tren Kesehatan

Transformasi Industri Kuliner Lokal Strategi Pemasaran Digital dan Adaptasi Tren Kesehatan

JAKARTA - Industri kuliner lokal sedang mengalami gelombang transformasi besar yang didorong oleh kemajuan teknologi digital dan perubahan pola hidup konsumen. Usaha kuliner skala kecil hingga menengah yang dahulu mengandalkan penjualan tatap muka di lokasi fisik, kini dituntut untuk beradaptasi...

08 Okt 2026

Sinyal Kenaikan Suku Bunga The Fed Mereda, Angin Segar Buat IHSG

Sinyal Kenaikan Suku Bunga The Fed Mereda, Angin Segar Buat IHSG

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi mengalami pembalikan arah atau rebound pada perdagangan Senin (5/10/2026). Pergerakan pasar saham domestik dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Salah satu perhatian utama investor adalah data...

05 Okt 2026