Danantara Disebut Kaji Akuisisi Pabrik Keramik yang Terdampak Lonjakan Harga Gas Industri

H Herman 30 Jun 2026 16 dilihat 4 menit baca

Pemerintah disebut tengah membuka peluang untuk mengakuisisi PT Granito Keramik, perusahaan produsen keramik yang mengalami tekanan berat akibat tingginya harga gas industri dalam beberapa waktu terakhir. Kabar tersebut disampaikan oleh Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) setelah berlangsungnya pertemuan antara perwakilan serikat pekerja dan pemerintah terkait nasib ratusan karyawan yang terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK).

Presiden KSPSI, Andi Gani Nena Wea, mengungkapkan bahwa pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara disebut berpeluang mengambil langkah akuisisi terhadap perusahaan apabila PHK massal tetap dilakukan. Selain opsi akuisisi, pemerintah juga disebut sedang mempertimbangkan upaya mencari investor baru yang bersedia menyuntikkan modal ke perusahaan demi menjaga kelangsungan operasional dan menyelamatkan lapangan pekerjaan.

PT Granito Keramik menjadi salah satu perusahaan yang terdampak signifikan akibat lonjakan harga gas industri yang sempat mencapai kisaran US$20 hingga US$23 per MMBtu. Kenaikan harga energi tersebut memberikan tekanan besar terhadap biaya produksi perusahaan. Industri keramik sendiri merupakan salah satu sektor yang sangat bergantung pada pasokan gas alam sebagai sumber energi utama dalam proses produksinya.

Biaya energi yang melonjak menyebabkan beban operasional perusahaan meningkat drastis. Kondisi tersebut pada akhirnya memengaruhi kemampuan perusahaan dalam mempertahankan aktivitas produksi dan menjaga stabilitas keuangan. Akibatnya, perusahaan terpaksa melakukan efisiensi, termasuk dengan mengambil langkah pemutusan hubungan kerja terhadap sejumlah karyawan.

Menurut KSPSI, terdapat sekitar 600 pekerja yang terancam kehilangan mata pencaharian apabila kondisi perusahaan tidak segera membaik. Oleh karena itu, upaya penyelamatan perusahaan menjadi hal yang sangat penting, tidak hanya bagi para pekerja tetapi juga bagi keberlangsungan industri keramik nasional.

Opsi akuisisi oleh Danantara dinilai sebagai salah satu langkah strategis yang dapat dipertimbangkan pemerintah. Jika akuisisi benar-benar dilakukan, maka pemerintah berpeluang mengambil peran lebih besar dalam menyelamatkan perusahaan yang dinilai memiliki potensi untuk kembali berkembang setelah menghadapi tekanan akibat tingginya biaya energi.

Selain itu, langkah pencarian investor baru juga menjadi alternatif yang cukup realistis. Masuknya investor dengan dukungan modal yang kuat dapat membantu perusahaan melakukan restrukturisasi, meningkatkan efisiensi, serta memperkuat kondisi keuangan sehingga operasional dapat kembali berjalan secara optimal.

Kasus yang dialami PT Granito Keramik juga menjadi gambaran mengenai besarnya dampak harga gas industri terhadap sektor manufaktur di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, para pelaku industri berkali-kali menyampaikan kekhawatiran mengenai tingginya biaya energi yang dinilai mengurangi daya saing industri nasional.

Sektor keramik merupakan salah satu industri yang paling merasakan dampak kenaikan harga gas. Proses produksi keramik membutuhkan energi dalam jumlah besar, mulai dari pembakaran bahan baku hingga proses penyelesaian produk akhir. Ketika harga gas meningkat tajam, biaya produksi ikut melonjak dan margin keuntungan perusahaan menjadi semakin tipis.

Kondisi tersebut tidak hanya mengancam keberlangsungan perusahaan, tetapi juga berdampak pada tenaga kerja dan rantai pasok industri secara keseluruhan. Jika semakin banyak perusahaan mengalami kesulitan akibat tingginya harga energi, maka potensi terjadinya PHK dan penurunan produksi nasional juga akan semakin besar.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu mencari solusi jangka panjang untuk menjamin ketersediaan energi dengan harga yang kompetitif bagi sektor industri. Kebijakan harga gas yang lebih stabil dan kepastian pasokan energi menjadi faktor penting untuk menjaga daya saing industri manufaktur di tengah persaingan global.

Di sisi lain, rencana keterlibatan Danantara dalam penyelamatan perusahaan menunjukkan adanya perhatian pemerintah terhadap sektor industri strategis dan perlindungan terhadap tenaga kerja. Langkah ini juga dapat menjadi sinyal positif bahwa pemerintah tidak tinggal diam ketika perusahaan nasional menghadapi tekanan yang berpotensi menimbulkan dampak sosial dan ekonomi yang luas.

Hingga saat ini, belum ada keputusan resmi terkait akuisisi maupun masuknya investor baru ke PT Granito Keramik. Namun, berbagai opsi yang sedang dikaji menunjukkan adanya upaya untuk mencari jalan keluar terbaik bagi perusahaan dan para pekerjanya.

Ke depan, penyelesaian kasus ini diharapkan tidak hanya mampu menyelamatkan sekitar 600 pekerja dari ancaman kehilangan pekerjaan, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat kebijakan energi dan meningkatkan daya tahan industri nasional dalam menghadapi gejolak harga komoditas global.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
H

Ditulis oleh

Herman

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

IHSG Merosot 2,4%, Saham Grup Prajogo Pangestu Jadi Pemberat Utama Pasar

IHSG Merosot 2,4%, Saham Grup Prajogo Pangestu Jadi Pemberat Utama Pasar

Perdagangan saham di pasar modal Indonesia pada Selasa, 30 Juni 2026, ditutup di zona merah pada sesi pertama. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG mengalami penurunan cukup tajam sebesar 2,42 persen dan ditutup di level 5.679 hingga perdagangan siang hari....

30 Jun 2026

Mengintip Seluk-beluk Biodiesel B50, Implementasi Resmi Dimulai 1 Juli 2026

Mengintip Seluk-beluk Biodiesel B50, Implementasi Resmi Dimulai 1 Juli 2026

Pemerintah Indonesia resmi memulai implementasi program mandatori biodiesel B50 pada 1 Juli 2026. Kebijakan ini menjadi salah satu langkah strategis nasional dalam upaya memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak, khususnya solar. Program B50 merupakan bahan...

30 Jun 2026

Masih Relevankah Harga Gas Industri US$7/MMBtu dalam Program HGBT?

Masih Relevankah Harga Gas Industri US$7/MMBtu dalam Program HGBT?

Program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu kebijakan penting pemerintah untuk meningkatkan daya saing industri nasional. Melalui program ini, sejumlah sektor industri memperoleh pasokan gas bumi dengan harga khusus sebesar US$7 per MMBtu (Million...

30 Jun 2026

Morgan Stanley Pangkas Outlook Harga Minyak, Risiko Kelebihan Pasokan Kian Mengkhawatirkan

Morgan Stanley Pangkas Outlook Harga Minyak, Risiko Kelebihan Pasokan Kian Mengkhawatirkan

Bank investasi global Morgan Stanley kembali memangkas proyeksi harga minyak dunia untuk kedua kalinya dalam kurun waktu sekitar dua pekan. Keputusan tersebut diambil setelah muncul sejumlah faktor yang dinilai dapat meningkatkan risiko kelebihan pasokan atau oversupply di pasar energi global....

30 Jun 2026