Memasuki tahun ketiga konflik bersenjata, perang antara Ukraina dan Rusia telah memasuki fase baru yang semakin kompleks dan tidak terduga. Jika di awal invasi pasukan Kyiv lebih fokus pada pertahanan wilayah dan garis depan, kini mereka mengadopsi strategi ofensif asimetris yang jauh lebih agresif. Untuk memutus rantai logistik perang Rusia, militer Ukraina secara sistematis dan terencana melancarkan serangan drone serta rudal jarak jauh ke wilayah dalam Rusia. Sasaran utamanya bukan lagi sekadar pos komando atau barak tentara di perbatasan, melainkan pabrik senjata strategis dan depot minyak raksasa yang menjadi nafas perang Moskow.
Pakar militer menyebut taktik ini sebagai strategi "pencekikan dari dalam" (strangulation strategy). Ukraina menyadari betul bahwa dalam perang atrisi, keunggulan numerik Rusia dalam hal personel dan amunisi menjadi ancaman besar. Oleh karena itu, menghancurkan logistik sebelum sampai ke medan tempur adalah solusi paling logis. Dengan menggunakan armada drone bunuh diri (kamikaze) buatan dalam negeri yang terus mengalami peningkatan jangkauan, ditambah rudal berpandu presisi dari bantuan Barat, Ukraina mampu menembus sistem pertahanan udara Rusia yang sebelumnya dianggap tangguh. Wilayah-wilayah industri kunci yang berjarak ratusan hingga ribuan kilometer dari perbatasan kini menjadi rentan terhadap serangan mendadak di tengah malam hari.
Salah satu taktik andalan Ukraina dalam menggempur Rusia adalah dengan menyasar infrastruktur energi mereka, terutama depo minyak dan kilang penyulingan. Logikanya sederhana: minyak adalah bahan bakar utama bagi mesin perang modern. Tanpa pasokan yang stabil, tank, kendaraan lapis baja, jet tempur, dan truk logistik Rusia akan lumpuh. Begitu depo-depo minyak ini lumpuh terbakar, efeknya langsung terasa di garda terdepan. Tapi dampaknya tidak berhenti di situ; serangan ini juga menjadi hantaman keras bagi dompet Rusia. Kilang yang rusak bikin kapasitas produksi dan ekspor anjlok, otomatis memotong sumber dana utama Moskow untuk membiayai perang. Masalahnya makin runyam karena memperbaiki fasilitas energi raksasa itu butuh waktu lama, apalagi suku cadangnya sulit didapat akibat blokade sanksi dari negara-negara Barat.
Sementara itu, serangan terhadap pabrik senjata dan fasilitas industri militer menunjukkan presisi intelijen Ukraina yang semakin tajam. Pabrik-pabrik yang memproduksi rudal balistik, amunisi artileri, hingga bom glide (bom terbang) yang dijatuhkan dari pesawat tempur dan menjadi momok menakutkan bagi infanteri Ukraina, menjadi target prioritas. Serangan ini sering kali memanfaatkan celah keamanan di langit malam atau menggunakan teknik swarm (kawanan drone) untuk membebani sistem radar pertahanan musuh. Menghancurkan pabrik berarti memutus siklus produksi senjata. Rusia tidak hanya kehilangan amunisi yang sudah jadi, tetapi juga kehilangan kapasitas untuk menggantikannya dalam waktu dekat. Ini memberikan ruang napas berharga bagi pasukan Ukraina di garis depan.
Efek samping yang sangat krusial dari strategi ini adalah memaksa Rusia merombak tata letak pertahanan udaranya. Untuk melindungi pabrik dan kilang minyak vital di belakang, Moskow terpaksa memindahkan sebagian besar sistem pertahanan udara canggih mereka, seperti S-400, dari wilayah perbatasan ke daerah pedalaman. Penarikan sistem pertahanan ini menciptakan celah keamanan yang bisa dieksploitasi oleh pesawat tempur dan drone tempur Ukraina di medan pertempuran langsung. Dengan kata lain, serangan logistik ini secara tidak langsung juga melemahkan pertahanan garis depan Rusia.
Strategi Ukraina yang hobi mengincar pabrik senjata dan depo minyak Rusia membuktikan satu hal: perang zaman sekarang tidak cuma ditentukan oleh baku tembak di garis depan, tapi juga lewat cara menghancurkan dapur industri musuh. Meski serangan-serangan ini tidak langsung menghentikan perang seketika, efek domino dari kacaunya jalur logistik ini jelas membuat militer Rusia makin loyo dan susah bergerak. Memutus pasokan minyak dan senjata adalah taktik cerdas sekaligus realistis dari Ukraina. Ini jadi bukti kalau modal nekat yang dibarengi inovasi bisa mengimbangi jumlah pasukan dan persenjataan berat (brute force) milik Rusia. Ke depannya, gempuran semacam ini diprediksi bakal makin gila-gilaan seiring meroketnya produksi drone buatan lokal di Kyiv.