Dharma Pongrekun Sebut Hantavirus adalah Kedok Bisnis dan Kontrol Global

H Herman 22 Mei 2026 3 dilihat 3 menit baca

Pernyataan kontroversial kembali datang dari tokoh publik Dharma Pongrekun yang menyebut bahwa hantavirus hanyalah bagian dari “kedok bisnis dan kontrol global.” Ucapan tersebut langsung memicu berbagai reaksi di media sosial maupun kalangan masyarakat. Sebagian mendukung pandangannya, sementara banyak pihak lain menilai pernyataan itu berpotensi menimbulkan kesalahpahaman terkait isu kesehatan publik.

Dalam sebuah pernyataan yang beredar luas di internet, Dharma Pongrekun mengaitkan kemunculan berbagai wabah penyakit dengan kepentingan ekonomi global. Ia menilai ada pola tertentu yang menurutnya membuat isu kesehatan sering dimanfaatkan untuk kepentingan bisnis, terutama oleh perusahaan besar di sektor farmasi dan teknologi kesehatan.

Hantavirus sendiri merupakan virus yang diketahui dapat menular dari hewan pengerat kepada manusia. Penyebaran virus ini biasanya terjadi melalui kontak dengan urine, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi. Dalam beberapa kasus, hantavirus dapat menyebabkan gangguan pernapasan serius dan memiliki tingkat fatalitas cukup tinggi apabila tidak ditangani dengan cepat.

Meski demikian, pernyataan Dharma Pongrekun justru lebih menyoroti aspek politik dan ekonomi di balik penyebaran informasi penyakit. Ia menyebut bahwa masyarakat perlu lebih kritis terhadap narasi global mengenai wabah penyakit, termasuk bagaimana informasi tersebut disebarluaskan melalui media dan lembaga internasional.

Ucapan tersebut langsung menuai perhatian luas karena muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap berbagai ancaman penyakit menular baru. Banyak pengguna media sosial memperdebatkan apakah pernyataan itu merupakan bentuk kritik terhadap sistem global atau justru penyebaran teori konspirasi yang tidak memiliki dasar ilmiah kuat.

Sejumlah pakar kesehatan mengingatkan bahwa informasi mengenai penyakit menular sebaiknya tetap merujuk pada data ilmiah dan penelitian medis yang dapat dipertanggungjawabkan. Mereka menilai penyebaran narasi tanpa bukti kuat dapat memicu kebingungan publik, terutama terkait langkah pencegahan penyakit.

Di sisi lain, ada pula kelompok masyarakat yang menilai kritik terhadap industri kesehatan global memang perlu dibahas secara terbuka. Mereka beranggapan bahwa pandemi dan wabah penyakit sering kali membawa dampak ekonomi besar, termasuk keuntungan bagi perusahaan farmasi, produsen alat kesehatan, dan industri teknologi tertentu.

Fenomena munculnya teori konspirasi terkait penyakit sebenarnya bukan hal baru. Saat pandemi COVID-19 berlangsung, berbagai narasi serupa juga sempat ramai beredar di internet. Mulai dari tuduhan rekayasa laboratorium, agenda pengendalian populasi, hingga isu bisnis vaksin menjadi perdebatan panjang di berbagai negara.

Para pengamat komunikasi digital menyebut media sosial memiliki peran besar dalam mempercepat penyebaran opini kontroversial. Algoritma platform digital dinilai membuat konten sensasional lebih mudah viral karena memancing emosi dan rasa penasaran publik. Akibatnya, informasi yang belum tentu terverifikasi dapat dengan cepat dipercaya sebagian masyarakat.

Sementara itu, para ahli kesehatan tetap menekankan pentingnya edukasi publik terkait bahaya penyakit menular. Mereka mengingatkan bahwa hantavirus memang telah lama dikenal dalam dunia medis dan bukan penyakit baru yang tiba-tiba muncul. Kasus infeksi hantavirus juga pernah ditemukan di berbagai negara selama bertahun-tahun.

Pemerintah dan lembaga kesehatan internasional biasanya mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan guna mencegah penyebaran virus dari hewan pengerat. Langkah sederhana seperti membersihkan area rumah, menutup akses tikus, dan menjaga sanitasi dianggap penting untuk mengurangi risiko penularan.

Terlepas dari kontroversi yang muncul, pernyataan Dharma Pongrekun kembali menunjukkan bagaimana isu kesehatan kini tidak hanya dipandang dari sisi medis, tetapi juga politik, ekonomi, dan sosial. Di era digital, opini dari tokoh publik dapat dengan cepat memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap suatu isu.

Karena itu, banyak pihak mengingatkan pentingnya literasi digital agar masyarakat mampu memilah informasi secara bijak. Kritik terhadap sistem global memang sah disampaikan, tetapi informasi kesehatan tetap perlu didasarkan pada fakta ilmiah yang jelas agar tidak menimbulkan kepanikan maupun kesalahpahaman di tengah masyarakat luas.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
H

Ditulis oleh

Herman

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

Gempa Tektonik Darat Guncang Sukabumi Hari Ini, BMKG Minta Warga Tetap Waspada

Gempa Tektonik Darat Guncang Sukabumi Hari Ini, BMKG Minta Warga Tetap Waspada

SUKABUMI – Aktivitas kegempaan kembali mengguncang wilayah Jawa Barat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan terjadinya gempa bumi tektonik yang berpusat di darat di wilayah Kabupaten/Kota Sukabumi pada Kamis siang, 21 Mei 2026. Peristiwa yang terjadi tepat pada pukul...

21 Mei 2026

Surgical Strike oleh Tikus Menjadi Aksi Pembobolan ATM yang Unik dan Meludeskan Uang Senilai Rp300 Juta

Surgical Strike oleh Tikus Menjadi Aksi Pembobolan ATM yang Unik dan Meludeskan Uang Senilai Rp300 Juta

Tinsukia – Sebuah insiden mencengangkan sekaligus menggelitik terjadi di salah satu wilayah timur laut India, di mana sebuah mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) menjadi target kehancuran total. Jika biasanya mesin penarik uang tunai menjadi sasaran komplotan kriminal profesional yang menggunakan...

21 Mei 2026

 Imigrasi Ungkap Puluhan Ribu WNI Keluar Negeri Secara Ilegal

Imigrasi Ungkap Puluhan Ribu WNI Keluar Negeri Secara Ilegal

JAKARTA – Indonesia tengah menghadapi tantangan serius terkait isu perlindungan warga negara di luar negeri. Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) baru-baru ini merilis data yang mengejutkan publik. Berdasarkan laporan terbaru, tercatat lebih dari 53 ribu...

21 Mei 2026

BNPB Laporkan Sejumlah Bencana Terjadi di Berbagai Wilayah Indonesia

BNPB Laporkan Sejumlah Bencana Terjadi di Berbagai Wilayah Indonesia

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali melaporkan perkembangan situasi dan penanganan bencana yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia pada Jumat, 15 Mei hingga Sabtu, 16 Mei 2026. Dalam laporan resmi yang dirilis BNPB, bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor...

21 Mei 2026