Harga Cabai dan Duo Bawang Meroket Tajam, Tekanan Inflasi Pangan Hantui Konsumen

S Sindi 21 Mei 2026 7 dilihat 4 menit baca

JAKARTA – Beban dompet masyarakat kian berat memasuki pekan ketiga bulan Mei 2026. Berdasarkan pembaruan data terbaru dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), grafik harga kelompok komoditas cabai kedapatan melonjak agresif mendekati angka 10%. Kenaikan yang tidak sedikit ini memaksa para ibu rumah tangga hingga pelaku usaha kuliner memutar otak demi menyiasati pengeluaran belanja harian.

Sinyal merah pasokan pangan ini terlihat jelas pada pergerakan harga di berbagai pasar tradisional nasional. Komoditas cabai rawit hijau meroket tajam hingga menyentuh angka Rp54.050 per kilogram. Sementara itu, cabai rawit merah yang menjadi primadona bumbu dapur pedas masih kokoh bertahan di level tinggi, yakni di kisaran Rp72.850 per kilogram.

 

Duo Bawang Kompak Ikut Merangkak Naik

Penderitaan konsumen di sektor hortikultura tidak berhenti pada lini percabaian saja. Efek domino dari ketidakstabilan pasokan ini turut menjalar ke bumbu inti lainnya. Komoditas duo bawang—baik bawang merah maupun bawang putih ukuran sedang—terpantau kompak ikut merangkak naik secara signifikan.

Kombinasi meroketnya harga cabai dan duo bawang ini menciptakan akumulasi biaya belanja yang cukup masif bagi masyarakat. Di tingkat eceran, pedagang mengaku terpaksa mengurangi stok harian mereka karena modal yang dibutuhkan melonjak drastis, sementara daya beli konsumen justru cenderung melambat akibat lonjakan harga yang mendadak ini.

 

Biang Kerok Lonjakan: Cuaca Buruk Hingga Efek Musiman

Merespons fenomena ini, pengamat ekonomi dan dinas terkait memetakan dua faktor utama yang menjadi pemicu utama di balik meroketnya harga bumbu-bumbuan ini:

1. Tingginya Curah Hujan di Wilayah Produsen

Faktor alam memegang peran paling krusial dalam rantai pasok hortikultura. Tingginya intensitas curah hujan di wilayah hulu atau daerah sentra produksi pangan menyebabkan produktivitas lahan pertanian merosot. Kondisi tanah yang terlalu basah membuat kualitas hasil panen menurun tajam, memicu pembusukan dini pada tanaman cabai, serta meningkatkan kerentanan komoditas terhadap serangan hama penyakit tumbuhan. Alhasil, kuota pasokan yang masuk ke pasar-pasar induk di kota besar menyusut drastis.

2. Siklus Permintaan Menjelang Idul Adha

Selain kendala iklim, pergerakan grafik harga ke atas ini juga didorong kuat oleh faktor musiman dari sisi konsumen. Memasuki fase dua pekan menjelang perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Adha, volume belanja masyarakat untuk kebutuhan dapur terindikasi mulai merangkak naik secara berkala. Hukum ekonomi pun berlaku: ketika pasokan dari petani menipis namun permintaan pasar melonjak, maka lonjakan harga tak lagi dapat dihindari.

"Masalah utama cabai sebetulnya juga kerap dipengaruhi oleh hambatan distribusi antardaerah," ungkap catatan evaluasi birokrasi pangan pemerintah baru-baru ini. Jalur logistik yang tidak merata membuat penyerapan pasokan dari daerah yang surplus ke daerah yang defisit menjadi terhambat.

 

 

Keluhan Pedagang dan Jeritan Konsumen di Pasar

Dampak nyata dari lonjakan harga ini langsung terasa di barisan lapak pasar tradisional. Banyak pedagang yang memilih untuk mengubah strategi penjualan guna menghindari kerugian bandar.

  • Penyusutan Porsi Eceran: Sejumlah pedagang menyiasati dengan tidak lagi menjual cabai dalam hitungan kilogram penuh kepada konsumen rumah tangga, melainkan mengemasnya dalam kantong-kantong plastik kecil seharga Rp5.000 hingga Rp10.000.

  • Pengurangan Pembelian dari Konsumen: Para pemilik warung makan (seperti warteg dan rumah makan padang) terpaksa mengurangi tingkat kepedasan masakan mereka atau mengurangi porsi sambal gratis demi menjaga margin keuntungan agar tidak gulung tikar.

Langkah Antisipasi Pemerintah yang Dinanti

Jika tren kenaikan harga ini terus dibiarkan tanpa adanya intervensi pasokan yang masif, tekanan inflasi volatile food (inflasi komponen bergejolak) dipastikan akan melonjak tajam sepanjang akhir bulan ini. Masyarakat kini menaruh harapan besar pada ketegasan pemerintah melalui Kementerian Perdagangan dan Badan Pangan Nasional (Bapanas).

 

Langkah taktis seperti menggelar Operasi Pasar Murah secara berkala di pemukiman padat penduduk, serta optimalisasi tol laut dan jalur logistik armada militer/BUMN untuk mendistribusikan pasokan komoditas hortikultura dari daerah surplus, dinilai menjadi solusi jangka pendek yang paling realistis guna meredam laju kenaikan harga sebelum perayaan Idul Adha tiba.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
S

Ditulis oleh

Sindi

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait