Di Antara Dua Rasa untuk Menjelajahi Languishing dan Rasa Hampa

S Sawalika 24 Jul 2026 1 dilihat 4 menit baca

Ada satu keadaan batin yang sering luput dari perhatian karena ia tidak seberat depresi, tidak segenting kecemasan, namun tetap saja terasa mengganggu: perasaan datar, tanpa gairah, seolah hari-hari berjalan begitu saja tanpa arah yang jelas. Psikolog Corey Keyes menyebut kondisi ini sebagai languishing, sebuah istilah yang kemudian populer luas setelah esai Adam Grant di tahun 2021 menggambarkannya sebagai "kekosongan di tengah pandemi" yang dirasakan banyak orang. Di Indonesia, keadaan semacam ini sering diterjemahkan secara sederhana sebagai rasa hampa. Namun benarkah keduanya sama persis, atau ada nuansa yang membedakan?

Dalam kerangka kesehatan mental, Keyes menempatkan languishing di antara dua kutub: flourishing (berkembang penuh) di satu sisi, dan gangguan mental seperti depresi di sisi lain. Seseorang yang languishing tidak sedang sakit secara klinis, namun ia juga tidak benar-benar hidup dengan penuh makna. Ia bisa saja tetap bekerja, menyelesaikan tugas, bahkan tersenyum pada orang lain, tetapi di balik itu ada rasa stagnan yang sulit dijelaskan. Motivasi menurun, fokus mudah buyar, dan rasa antusiasme terhadap hal-hal yang dulu disukai perlahan memudar. Yang membuat languishing licin untuk dikenali adalah justru ketiadaannya gejala yang mencolok. Ia tidak mengundang perhatian orang sekitar, karena secara kasat mata semuanya tampak baik-baik saja.

Sementara itu, rasa hampa cenderung lebih personal dan lebih terasa sebagai pengalaman batin yang sunyi. Ia sering muncul bukan karena beban yang terlalu berat, melainkan justru karena ketiadaan sesuatu—ketiadaan makna, ketiadaan koneksi, atau ketiadaan alasan yang cukup kuat untuk merasa bersemangat menjalani hari. Rasa hampa bisa muncul setelah pencapaian besar yang ternyata tidak memberi kepuasan seperti yang dibayangkan, setelah kehilangan seseorang atau sesuatu yang selama ini menjadi pusat perhatian, atau bahkan tanpa sebab yang jelas sama sekali. Berbeda dengan languishing yang lebih menggambarkan penurunan fungsi psikologis secara umum, rasa hampa lebih mengarah pada pengalaman subjektif tentang kekosongan itu sendiri—sebuah ruang yang terasa harus diisi, namun tidak jelas dengan apa.

Sementara itu, rasa hampa cenderung lebih personal dan lebih terasa sebagai pengalaman batin yang sunyi. Ia sering muncul bukan karena beban yang terlalu berat, melainkan justru karena ketiadaan sesuatu—ketiadaan makna, ketiadaan koneksi, atau ketiadaan alasan yang cukup kuat untuk merasa bersemangat menjalani hari. Rasa hampa bisa muncul setelah pencapaian besar yang ternyata tidak memberi kepuasan seperti yang dibayangkan, setelah kehilangan seseorang atau sesuatu yang selama ini menjadi pusat perhatian, atau bahkan tanpa sebab yang jelas sama sekali. Berbeda dengan languishing yang lebih menggambarkan penurunan fungsi psikologis secara umum, rasa hampa lebih mengarah pada pengalaman subjektif tentang kekosongan itu sendiri—sebuah ruang yang terasa harus diisi, namun tidak jelas dengan apa.

Salah satu risiko terbesar dari languishing dan rasa hampa adalah keduanya mudah diabaikan, baik oleh orang yang mengalaminya sendiri maupun oleh orang di sekitarnya. Karena tidak ada krisis yang tampak jelas, banyak orang memilih untuk terus berjalan seperti biasa, menganggap perasaan itu akan hilang dengan sendirinya. Padahal, membiarkan kondisi ini tanpa disadari dalam waktu lama bisa membuka jalan bagi masalah kesehatan mental yang lebih serius. Mengenali dan menamai perasaan ini justru menjadi langkah awal yang penting, karena memberi nama pada sesuatu yang samar membantu seseorang memahami bahwa apa yang ia rasakan itu nyata dan sah untuk diperhatikan.

Berbeda dengan depresi yang umumnya memerlukan penanganan klinis, languishing dan rasa hampa sering kali merespons baik terhadap perubahan-perubahan kecil yang konsisten. Menetapkan tujuan sederhana yang bisa dicapai harian, mencari kembali aktivitas yang dulu memberi rasa flow atau keterlibatan penuh, memperkuat koneksi sosial yang bermakna, hingga sekadar memberi ruang untuk beristirahat tanpa rasa bersalah, semuanya bisa menjadi titik awal untuk perlahan bergerak dari sekadar bertahan menuju berkembang. Yang tidak kalah penting adalah kesabaran terhadap proses ini, karena keluar dari rasa hampa bukanlah soal menemukan satu jawaban besar, melainkan mengumpulkan kembali kepingan-kepingan kecil makna yang sempat tercecer.

Pada akhirnya, languishing dan rasa hampa mengajarkan satu hal penting: kesehatan mental bukan sekadar soal ada atau tidaknya gangguan, melainkan juga soal seberapa penuh seseorang benar-benar merasa hidup. Mengenali kedua rasa ini dengan jujur, tanpa buru-buru menghakimi diri sendiri, adalah langkah pertama untuk kembali menemukan arah dan makna yang mungkin sempat terasa hilang.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
S

Ditulis oleh

Sawalika

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait