Kabar mengharukan datang dari Venezuela pada Kamis dini hari, 3 Juli 2026. Tim penyelamat gabungan internasional berhasil mengeluarkan seorang pria dalam kondisi hidup dari reruntuhan bangunan, delapan hari setelah gempa bumi kembar yang dahsyat meluluhlantakkan wilayah utara negara itu. Peristiwa ini langsung disambut sebagai sebuah keajaiban di tengah duka mendalam yang masih menyelimuti bangsa tersebut. Pria yang berhasil diselamatkan itu bernama Hernan Alberto Gil Flores, seorang petugas keamanan berusia 43 tahun. Ia bekerja pada shift malam di kompleks pusat perbelanjaan Galerias Playa Grande, yang berada di kawasan pesisir Catia La Mar, Negara Bagian La Guaira. Saat gempa pertama mengguncang pada 24 Juni lalu, Gil Flores tengah bertugas di pos jaganya yang berukuran kecil. Ironisnya, justru pos kecil itulah yang menyelamatkan nyawanya. Ketika bangunan tujuh lantai di sekitarnya runtuh total, struktur pos jaga tersebut tetap bertahan sehingga membentuk semacam rongga udara yang melindunginya dari timbunan beton sekaligus menopang kelangsungan hidupnya selama berhari-hari.
Operasi pencarian dan evakuasi Gil Flores berlangsung sangat rumit. Tim penyelamat harus bekerja di tengah bangunan yang nyaris ambruk, diguyur hujan deras, serta menghadapi ancaman gempa susulan yang terus terjadi. Tanda-tanda kehidupan pertama kali terdeteksi oleh tim khusus dari Palang Merah Kosta Rika pada akhir pekan lalu, setelah mereka berhasil menjalin komunikasi dengan Gil Flores di balik reruntuhan.
Setelah kontak berhasil dilakukan, para penyelamat menghabiskan waktu lebih dari 100 jam untuk membebaskannya secara perlahan dan hati-hati agar tidak memicu runtuhnya material di sekitarnya. Pasokan makanan dan air terus disalurkan ke lokasi Gil Flores terjebak selama proses penggalian berlangsung, sehingga tubuhnya mampu bertahan jauh melampaui rentang waktu 48 hingga 72 jam yang selama ini dianggap sebagai masa kritis atau golden time bagi korban gempa untuk ditemukan hidup.
Pemimpin tim penyelamat asal Cile, Cristian Vera, mengungkapkan bahwa sangat sulit untuk mencapai titik pasti lokasi korban berada di tengah tumpukan reruntuhan yang tidak stabil. Meski demikian, kegigihan tim lintas negara yang tergabung dalam operasi tersebut akhirnya membuahkan hasil.
Ketika akhirnya berhasil dikeluarkan, Gil Flores dievakuasi menggunakan tandu dengan tubuh yang dipenuhi debu, mengenakan masker oksigen, dan diselimuti terpal berwarna oranye. Ratusan petugas penyelamat yang berada di lokasi bersorak gembira dan saling berpelukan begitu melihat Gil Flores berhasil dibawa keluar. Para relawan yang membawa bendera dari berbagai negara turut mengiringi proses pengangkutannya menuju ambulans yang telah disiagakan.
Salah satu anggota tim penyelamat asal Chile terlihat mengepalkan tangan sebagai luapan kegembiraan, sementara petugas Palang Merah Kosta Rika saling berpelukan dan tertawa lega. Tepuk tangan panjang pun pecah dari para petugas lain yang menyaksikan momen tersebut secara langsung.
Ketika akhirnya berhasil dikeluarkan, Gil Flores dievakuasi menggunakan tandu dengan tubuh yang dipenuhi debu, mengenakan masker oksigen, dan diselimuti terpal berwarna oranye. Ratusan petugas penyelamat yang berada di lokasi bersorak gembira dan saling berpelukan begitu melihat Gil Flores berhasil dibawa keluar. Para relawan yang membawa bendera dari berbagai negara turut mengiringi proses pengangkutannya menuju ambulans yang telah disiagakan.
Salah satu anggota tim penyelamat asal Chile terlihat mengepalkan tangan sebagai luapan kegembiraan, sementara petugas Palang Merah Kosta Rika saling berpelukan dan tertawa lega. Tepuk tangan panjang pun pecah dari para petugas lain yang menyaksikan momen tersebut secara langsung.
Bencana ini bermula dari dua gempa besar yang mengguncang wilayah utara Venezuela secara beruntun pada 24 Juni lalu, masing-masing berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5. Guncangan dangkal namun sangat kuat tersebut menyebabkan kerusakan parah pada puluhan ribu bangunan di berbagai wilayah. Hingga saat ini, jumlah korban jiwa yang tercatat mendekati angka 2.300 orang, sementara lebih dari 11.000 lainnya mengalami luka-luka. Negara Bagian La Guaira tercatat sebagai wilayah yang mengalami kerusakan paling parah akibat bencana ini.
Meski demikian, seiring berjalannya waktu, harapan untuk menemukan lebih banyak korban selamat mulai memudar. Fokus penanganan pascabencana kini mulai bergeser ke tahap pemulihan bagi para penyintas. Banyak warga kehilangan tempat tinggal, sementara persediaan makanan dan air bersih semakin menipis. Rumah sakit di sekitar wilayah bencana juga dilaporkan kewalahan menangani lonjakan pasien, dan sejumlah pihak mulai mewaspadai potensi munculnya wabah penyakit akibat kondisi sanitasi yang memburuk pascabencana.