Hari Jantung Sedunia atau World Heart Day diperingati setiap tanggal 29 September sebagai momentum global untuk meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan jantung dan penyakit kardiovaskular. Pada tahun 2026, peringatan ini jatuh pada hari Selasa, 29 September 2026, dan menjadi yang ke-26 sejak pertama kali digagas pada tahun 2000. Peringatan ini mendorong masyarakat untuk lebih mengenali faktor risiko, memperhatikan tanda-tanda gangguan jantung, serta menerapkan kebiasaan yang mendukung kesehatan kardiovaskular.
Tahun ini, World Heart Federation (WHF) mengusung kampanye bertema "Don't Miss a Beat", yang secara sederhana dapat dimaknai sebagai ajakan untuk tidak melewatkan detak jantung, terutama dalam mengenali tanda-tanda yang dapat mengarah pada masalah jantung. Kampanye ini menyoroti gejala penyakit jantung yang kerap tidak dikenali atau baru mendapat perhatian ketika kondisinya sudah serius. WHF mencatat bahwa satu dari tiga orang di dunia meninggal akibat penyakit jantung, dan 50 persen bayi yang lahir dengan penyakit jantung bawaan tidak terdiagnosis saat lahir. Selain itu, kurang dari 20 negara memiliki rencana nasional khusus untuk menanggulangi penyakit kardiovaskular.
Di Indonesia, penyakit jantung masih menjadi tantangan serius. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa setiap tahun sekitar 260 ribu masyarakat Indonesia meninggal akibat serangan jantung. Kondisi ini menempati urutan kematian kedua setelah stroke. Indonesia juga mencatat sekitar 48 ribu bayi lahir dengan penyakit jantung bawaan setiap tahun, dan sekitar seperempatnya merupakan kasus berat yang membutuhkan penanganan segera. Namun, kapasitas operasi nasional saat ini baru mampu menangani sekitar 6.000 bayi setiap tahun, sehingga masih banyak pasien yang kehilangan kesempatan hidup akibat keterlambatan diagnosis maupun rujukan.
Data BPJS Kesehatan juga menunjukkan bahwa lembaga tersebut menanggung pengobatan untuk 29,7 juta kasus pasien penyakit jantung. Sementara itu, dokter mengungkapkan bahwa 20 persen pasien gangguan jantung kini mulai bergeser ke usia produktif 30 tahun ke atas. Fakta-fakta ini menegaskan bahwa penyakit jantung bukan hanya ancaman bagi kelompok usia lanjut, tetapi juga bagi generasi muda yang seharusnya berada dalam masa produktif.
Berbagai daerah di Indonesia telah menggelar rangkaian kegiatan untuk memperingati Hari Jantung Sedunia 2026. Di Kota Padang, TP PKK memperkuat keterampilan kader melalui pelatihan dan Lomba Bantuan Hidup Dasar (BHD) yang diikuti 11 kelompok perwakilan kecamatan. Ketua TP PKK Kota Padang, Dian Puspita Fadly Amran, yang juga berlatar belakang dokter spesialis jantung, menekankan bahwa kemampuan memberikan pertolongan pada menit-menit awal saat seseorang mengalami henti jantung dapat menjadi penentu sebelum bantuan medis profesional tiba. "Melalui peringatan Hari Jantung Sedunia ini, mari kita bangun satu komitmen bersama, jangan menunggu sakit untuk mulai menjaganya," ujarnya.
Di Kota Malang, Pemerintah Kota Malang bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Cabang Malang memperingati World Heart Day 2026 dengan meluncurkan Ambulans PERKI yang dilengkapi fasilitas khusus untuk mendukung penanganan pasien jantung. Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menegaskan bahwa dalam penanganan penyakit jantung, kecepatan menjadi hal yang sangat penting. Kegiatan di Kota Malang juga diisi dengan fun run, fun walk, dan senam jantung sehat sebagai upaya membangun kebiasaan hidup aktif di tengah masyarakat.
Peringatan Hari Jantung Sedunia 2026 menjadi pengingat bahwa sebagian besar penyakit jantung dapat dicegah. WHF menekankan bahwa mayoritas kematian akibat penyakit kardiovaskular disebabkan oleh faktor risiko yang dapat dicegah atau dikelola. Dengan membuat perubahan kecil yang konsisten, masyarakat dapat meningkatkan kesehatan jantung secara signifikan. Langkah-langkah sederhana seperti aktif bergerak, mengonsumsi makanan bergizi, mengontrol kadar kolesterol dan gula darah, serta menghindari rokok menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan jantung. Pemerintah juga terus mempercepat program skrining kesehatan nasional yang menargetkan seluruh penduduk Indonesia, termasuk bayi baru lahir, hingga tahun 2029. Dengan kesadaran dan tindakan nyata dari seluruh lapisan masyarakat, diharapkan angka kematian akibat penyakit jantung dapat ditekan dan kualitas hidup masyarakat Indonesia semakin meningkat.