Hari Mangrove Sedunia 2026, Indonesia Tunjukkan Komitmen Konservasi Ekosistem Pesisir

D Dina 26 Jul 2026 2 dilihat 4 menit baca

Tanggal 26 Juli 2026 menjadi momen penting bagi dunia, khususnya Indonesia, dalam memperingati Hari Mangrove Sedunia. Peringatan tahunan ini bertujuan meningkatkan kesadaran global akan peran krusial ekosistem mangrove sebagai benteng alami pesisir, penyerap karbon biru, serta habitat bagi berbagai spesies laut dan darat. Di Indonesia, negara dengan luas hutan mangrove terbesar di dunia, peringatan hari ini menjadi pengingat sekaligus ajang evaluasi atas upaya konservasi yang telah dan terus dilakukan oleh pemerintah, dunia usaha, akademisi, serta masyarakat pesisir. Berbagai kegiatan pun digelar di sejumlah daerah, mulai dari penanaman bibit mangrove secara serentak, edukasi lingkungan, hingga diskusi ilmiah yang melibatkan tokoh-tokoh lingkungan hidup nasional.

Salah satu kegiatan yang paling menarik perhatian adalah Mangrove Sharing Session yang diselenggarakan oleh PLN Indonesia Power melalui Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Bali. Acara yang berlangsung di kawasan pesisir Bali ini menghadirkan Prof. Dr. Emil Salim, tokoh lingkungan hidup sekaligus mantan Menteri Lingkungan Hidup pada era 1978-1993, sebagai pembicara utama. Kehadiran Prof. Emil Salim dalam forum ini memberikan bobot tersendiri, mengingat pengalaman dan dedikasinya dalam dunia konservasi lingkungan selama puluhan tahun. Dalam sesi diskusi yang berlangsung interaktif tersebut, Prof. Emil Salim menyampaikan pandangannya bahwa mangrove bukan sekadar pohon yang tumbuh di tepi pantai, melainkan ekosistem yang memiliki nilai strategis bagi kelangsungan hidup manusia, terutama masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir. Mangrove berfungsi sebagai perisai alami yang melindungi garis pantai dari abrasi, gelombang pasang, dan bahkan dampak buruk perubahan iklim seperti naiknya permukaan air laut. Selain itu, akar mangrove yang rapat menjadi tempat pemijahan berbagai jenis ikan, udang, dan kepiting, yang menjadi andalan mata pencaharian nelayan tradisional. "Mangrove adalah paru-paru pesisir. Jika mangrove rusak, maka ekosistem laut akan terganggu dan dampaknya langsung dirasakan oleh nelayan dan masyarakat pesisir," tegas Prof. Emil Salim di hadapan para peserta.

PLN Indonesia Power melalui kegiatan ini menunjukkan komitmen nyata bahwa perusahaan tidak hanya berfokus pada kinerja operasional dan penyediaan energi, tetapi juga pada aspek keberlanjutan lingkungan. Manager CSR PLN Indonesia Power, Elza Febrianto, menyatakan bahwa konservasi mangrove merupakan bagian integral dari program tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan. Menurutnya, keberhasilan perusahaan tidak cukup diukur dari laba semata, tetapi juga dari kontribusinya dalam melindungi lingkungan dan memberdayakan masyarakat sekitar. "Kami menyadari bahwa operasional kami berdampak pada lingkungan, karena itu kami memiliki kewajiban moral untuk memulihkan dan menjaga ekosistem yang ada. Melalui kolaborasi dengan Kelompok Usaha Bersama Segara Guna Batu Lumbang dan Yayasan Emil Salim, kami berharap program ini dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi Bali, khususnya kawasan pesisir yang selama ini menjadi andalan pariwisata," ujar Elza. Sharing session ini juga dihadiri oleh perwakilan pemerintah daerah, akademisi dari Universitas Udayana, serta kelompok tani dan nelayan setempat yang selama ini menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian hutan mangrove di wilayahnya.

Indonesia sendiri memiliki sekitar 3,36 juta hektar hutan mangrove, atau setara dengan 23 persen dari total mangrove dunia. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan ekosistem mangrove terluas di dunia, mengalahkan Brasil dan Australia. Namun, luas tersebut terus mengalami penurunan akibat konversi lahan menjadi tambak, pemukiman, serta pembangunan infrastruktur yang tidak terkendali. Oleh karena itu, peringatan Hari Mangrove Sedunia menjadi pengingat penting bagi semua pihak untuk terus menjaga dan memulihkan ekosistem yang sudah rusak. Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menargetkan rehabilitasi 600 ribu hektar mangrove pada tahun 2029, sebuah target ambisius yang membutuhkan kerja sama semua elemen bangsa.

Kegiatan peringatan Hari Mangrove Sedunia tidak hanya berlangsung di Bali. Di berbagai provinsi lain seperti Sumatra Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Papua, masyarakat bersama aparat pemerintah dan perusahaan swasta juga menggelar aksi tanam mangrove serentak. Di Lombok, misalnya, komunitas pemuda pesisir menggelar bersih-bersih pantai sekaligus penanaman 5.000 bibit mangrove di kawasan Teluk Ekas. Sementara itu, di Surabaya, Dinas Lingkungan Hidup mengadakan kampanye edukasi tentang pentingnya mangrove bagi anak-anak sekolah melalui lomba mewarnai dan pemutaran film dokumenter. Semangat konservasi ini diharapkan tidak berhenti pada peringatan tahunan, tetapi menjadi gerakan berkelanjutan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat, Indonesia optimistis dapat mempertahankan gelar sebagai paru-paru dunia sekaligus menjaga kesejahteraan masyarakat pesisir yang selama ini sangat bergantung pada kelestarian ekosistem mangrove.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
D

Ditulis oleh

Dina

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

Legenda Bisnis Kecantikan Indonesia Martha Tilaar Wafat pada Usia 89 Tahun

Legenda Bisnis Kecantikan Indonesia Martha Tilaar Wafat pada Usia 89 Tahun

Kabar duka menyelimuti dunia usaha dan industri kecantikan Tanah Air. Tokoh wirausaha ternama sekaligus pendiri Martha Tilaar Group, DR. (H.C.) Martha Tilaar, mengembuskan napas terakhirnya pada Rabu (14/10/2026) pagi di Jakarta akibat sakit. Kepergian wanita kelahiran Kebumen, 4 September 1937...

24 Okt 2026

Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan di Sumatera dan Kalimantan

Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan di Sumatera dan Kalimantan

Isu kebakaran hutan dan lahan di kawasan Sumatera dan Kalimantan terus menjadi perhatian utama pemerintah Indonesia dalam upaya menjaga kualitas udara dan mencegah dampak ekologis yang memburuk. BMKG dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat bahwa kombinasi cuaca kering serta karakteristik...

23 Okt 2026

Darurat Kabut Asap! Udara Palangka Raya Sentuh PM2.5 593,4, Bernapas Seharian Setara Isap 27 Batang Rokok

Darurat Kabut Asap! Udara Palangka Raya Sentuh PM2.5 593,4, Bernapas Seharian Setara Isap 27 Batang Rokok

JAKARTA – Kualitas udara di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, dilaporkan memasuki fase darurat yang sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan data pemantauan kualitas udara terkini, rata-rata konsentrasi polutan partikulat halus atau PM2.5 di kota tersebut melonjak tajam hingga menyentuh angka 593,4 mikrogram...

22 Okt 2026

Penemuan Situs Bangkai Kapal Karam Abad Ke-10 di Perairan Nusantara Mengungkap Kejayaan Jalur Rempah dan Jaringan Perdagangan Antarbenua

Penemuan Situs Bangkai Kapal Karam Abad Ke-10 di Perairan Nusantara Mengungkap Kejayaan Jalur Rempah dan Jaringan Perdagangan Antarbenua

BELITUNG — Tim arkeologi kelautan gabungan kembali mencatatkan penemuan bersejarah berharga tinggi di wilayah perairan Indonesia. Penemuan berupa situs bangkai kapal karam (shipwreck) beserta ribuan komoditas muatannya yang berasal dari era abad ke-10 Masehi tersebut berhasil diidentifikasi di dasar laut...

21 Okt 2026