Reputasi Investasi Kripto Dirusak Kelakuan Hacker

H Herman 09 Sep 2026 5 dilihat 6 menit baca

Industri aset kripto kembali menghadapi tantangan besar setelah aksi peretasan yang menyebabkan kerugian ratusan juta dolar. Insiden tersebut bukan hanya menimbulkan kerugian bagi pihak yang menjadi korban, tetapi juga berpotensi memperburuk persepsi terhadap keamanan aset digital di mata perbankan, investor institusional, dan pelaku industri keuangan tradisional.

Peretasan terhadap Liquid Network yang berkaitan dengan ekosistem Bitcoin dengan nilai kerugian sekitar US$320 juta menjadi sorotan terbaru. Nilai tersebut menunjukkan bahwa risiko keamanan dalam industri kripto masih menjadi persoalan serius, terutama ketika aset digital semakin diarahkan untuk masuk ke dalam sistem keuangan arus utama.

Persoalan yang muncul dari kasus tersebut tidak semata-mata mengenai jumlah Bitcoin atau aset kripto lain yang berhasil dicuri. Liquid dikembangkan dengan tujuan meningkatkan kegunaan Bitcoin, terutama untuk kebutuhan perdagangan dan penyelesaian transaksi. Infrastruktur seperti ini diharapkan dapat membuat aset digital memiliki fungsi yang lebih luas dalam aktivitas keuangan.

Namun, serangan tersebut justru memperlihatkan bahwa keamanan ekosistem di sekitar blockchain masih menjadi titik yang perlu mendapatkan perhatian besar.

Blockchain selama ini dikenal memiliki sistem pencatatan transaksi yang dirancang agar sulit dimanipulasi. Akan tetapi, keamanan blockchain tidak berarti seluruh komponen yang berinteraksi dengannya otomatis bebas dari risiko.

Pengguna tetap bergantung pada berbagai infrastruktur tambahan seperti dompet digital, sistem penyimpanan aset, kunci privat, platform perdagangan, hingga mekanisme yang digunakan untuk memindahkan aset. Celah pada salah satu bagian tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi pelaku kejahatan siber.

Kondisi inilah yang membuat peretasan terhadap platform atau infrastruktur kripto menjadi masalah besar bagi industri. Meskipun teknologi blockchain memiliki karakteristik keamanan tertentu, aset yang berada di dalam ekosistem tersebut tetap dapat menghadapi risiko ketika pengelolaan akses dan penyimpanannya tidak memadai.

Kepercayaan Investor Kembali Dipertanyakan

Peristiwa tersebut datang ketika industri kripto sedang berupaya meningkatkan legitimasi di mata lembaga keuangan konvensional.

Dalam beberapa tahun terakhir, aset digital semakin banyak dibicarakan sebagai bagian dari perkembangan sistem keuangan modern. Institusi keuangan dan investor profesional juga semakin memperhatikan perkembangan teknologi blockchain serta berbagai instrumen yang berkaitan dengan aset digital.

Namun, semakin besar keterlibatan institusi, semakin tinggi pula tuntutan terhadap keamanan.

Bank dan investor institusional tidak hanya mempertimbangkan potensi keuntungan ketika melihat aset digital. Mereka juga harus memperhitungkan risiko operasional, keamanan siber, kepatuhan, tata kelola, serta perlindungan terhadap aset nasabah.

Kasus peretasan bernilai besar dapat membuat pertimbangan tersebut menjadi semakin ketat.

Nikhil Raghuveera, CEO Predicate yang bergerak dalam penyediaan infrastruktur kepatuhan blockchain, menilai serangkaian serangan yang terus terjadi dapat memperkuat pandangan bahwa sektor keuangan terdesentralisasi atau DeFi masih belum cukup matang untuk digunakan secara luas.

Pandangan tersebut mencerminkan persoalan yang lebih besar. Industri kripto tidak hanya harus membuktikan bahwa teknologi blockchain dapat bekerja secara teknis, tetapi juga harus menunjukkan bahwa ekosistem pendukungnya mampu memberikan tingkat keamanan dan perlindungan yang dapat diterima oleh pengguna serta institusi keuangan.

Risiko Tidak Hanya Berasal dari Blockchain

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah menganggap keamanan blockchain otomatis membuat seluruh aktivitas kripto aman.

Dalam praktiknya, terdapat banyak lapisan teknologi yang bekerja di sekitar blockchain. Pengguna membutuhkan dompet untuk menyimpan dan mengakses aset, sementara perusahaan dapat menggunakan sistem penyimpanan khusus untuk mengelola aset dalam jumlah besar.

Kunci privat menjadi salah satu elemen yang sangat penting. Siapa pun yang memperoleh akses terhadap kredensial tersebut dapat berpotensi mengendalikan aset yang terkait dengannya.

Karena itu, sistem penyimpanan, pengelolaan akses, autentikasi, serta prosedur pemindahan aset menjadi bagian penting dalam keamanan kripto.

Serangan terhadap infrastruktur juga dapat memberikan dampak lebih luas daripada sekadar kehilangan aset. Insiden keamanan dapat mengganggu aktivitas perdagangan, menimbulkan ketidakpastian, dan membuat pengguna mempertanyakan apakah platform yang mereka gunakan mampu menjaga aset mereka.

Bagi investor institusional, persoalan tersebut dapat menjadi alasan untuk menunda ekspansi atau memperketat persyaratan sebelum memasukkan aset digital ke dalam portofolio.

DeFi Menghadapi Ujian Keamanan

Perkembangan DeFi menjadi salah satu bagian penting dari ekosistem blockchain. Konsep ini menawarkan berbagai layanan keuangan yang dapat dijalankan menggunakan teknologi terdesentralisasi tanpa bergantung sepenuhnya pada perantara tradisional.

Potensi tersebut membuat DeFi mendapatkan perhatian besar dari industri teknologi dan keuangan.

Namun, sistem yang semakin kompleks juga menciptakan berbagai tantangan baru. Setiap protokol, dompet, jembatan antarjaringan, dan layanan pendukung dapat memiliki risiko keamanan masing-masing.

Pelaku kejahatan siber juga terus mencari cara untuk mengeksploitasi kelemahan tersebut. Ketika nilai aset yang tersimpan di dalam sebuah sistem semakin besar, insentif bagi hacker untuk menyerangnya juga semakin tinggi.

Akibatnya, keamanan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan apakah DeFi dapat berkembang dari teknologi eksperimental menjadi bagian dari infrastruktur keuangan yang digunakan secara luas.

Industri Kripto Perlu Memperkuat Pertahanan

Kasus peretasan besar memberikan pelajaran bahwa pertumbuhan industri kripto tidak dapat hanya mengandalkan inovasi teknologi. Keamanan dan tata kelola harus berkembang dengan kecepatan yang sama.

Perusahaan yang mengelola aset digital perlu memperkuat sistem keamanan, melakukan audit secara berkala, meningkatkan mekanisme pengendalian akses, serta menyiapkan prosedur tanggap insiden apabila terjadi serangan.

Selain itu, transparansi juga menjadi penting. Ketika terjadi insiden, pengguna dan investor membutuhkan informasi yang jelas mengenai aset yang terdampak, penyebab serangan, serta langkah pemulihan yang dilakukan.

Kepercayaan menjadi aset yang sangat penting bagi industri keuangan. Sekalipun teknologi yang digunakan memiliki potensi besar, pengguna akan sulit menerima suatu sistem jika mereka merasa asetnya tidak cukup aman.

Hal tersebut menjadi tantangan bagi industri kripto yang kini berusaha bergerak menuju adopsi yang lebih luas.

Jalan Panjang Menuju Arus Utama

Peretasan terhadap Liquid Network menjadi pengingat bahwa perjalanan aset digital menuju sistem keuangan arus utama masih menghadapi berbagai hambatan.

Bitcoin dan teknologi blockchain telah berkembang jauh sejak pertama kali diperkenalkan. Namun, peningkatan nilai aset digital juga membuat infrastruktur pendukungnya menjadi target yang semakin menarik bagi pelaku kejahatan siber.

Bagi investor ritel, kejadian semacam ini menunjukkan pentingnya memahami bahwa risiko investasi kripto tidak hanya berasal dari perubahan harga. Risiko keamanan dan pengelolaan aset juga perlu menjadi pertimbangan.

Sementara bagi institusi, keamanan infrastruktur akan menjadi salah satu faktor utama sebelum mereka meningkatkan eksposur terhadap aset digital.

Pada akhirnya, industri kripto harus membuktikan bahwa teknologi yang ditawarkannya tidak hanya inovatif, tetapi juga dapat memberikan keamanan, transparansi, dan tata kelola yang memadai.

Jika serangan besar terus terjadi, reputasi aset digital berpotensi kembali mendapat tekanan. Sebaliknya, apabila industri mampu memperkuat sistem keamanan dan mengurangi risiko serangan, kepercayaan investor dapat perlahan meningkat.

Dengan demikian, tantangan terbesar kripto saat ini bukan hanya bagaimana membuat Bitcoin dan aset digital semakin mudah digunakan, tetapi juga bagaimana memastikan seluruh infrastruktur yang mengelilinginya cukup kuat untuk menghadapi ancaman keamanan yang terus berkembang.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
H

Ditulis oleh

Herman

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

Pilihan China Membangun Infrastruktur Pusat Data dari Pinggiran

Pilihan China Membangun Infrastruktur Pusat Data dari Pinggiran

Ketika perhatian dunia tertuju pada kota-kota besar China seperti Beijing, Shanghai, Shenzhen, dan Guangzhou sebagai pusat perkembangan teknologi, negara tersebut justru mulai membangun sebagian infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dari wilayah yang jauh dari pusat ekonomi utama. Salah satu contohnya adalah...

09 Sep 2026

7 Skill AI yang Paling Dicari Perusahaan pada 2026

7 Skill AI yang Paling Dicari Perusahaan pada 2026

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) semakin mengubah cara perusahaan menjalankan aktivitas bisnis. Jika sebelumnya AI lebih banyak dikaitkan dengan dunia pemrograman dan teknologi, kini pemanfaatannya telah meluas ke berbagai bidang pekerjaan, mulai dari pemasaran, desain, sumber daya manusia (HR), penjualan, hingga...

09 Sep 2026

AI Makin Rakus Listrik, Ini Alasan Data Center Butuh Energi Besar

AI Makin Rakus Listrik, Ini Alasan Data Center Butuh Energi Besar

Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin pesat dan mulai menjadi bagian dari berbagai aktivitas sehari-hari. Pengguna dapat memanfaatkan AI untuk menjawab pertanyaan, membuat gambar, menerjemahkan bahasa, menganalisis dokumen, hingga membantu berbagai pekerjaan dalam waktu singkat. Di balik kemudahan...

09 Sep 2026

Jelang Rilis Besok, iPhone Lipat Bakal Dijual dengan Harga Rp37 Juta

Jelang Rilis Besok, iPhone Lipat Bakal Dijual dengan Harga Rp37 Juta

Apple dikabarkan segera memasuki persaingan smartphone layar lipat dengan memperkenalkan perangkat yang disebut-sebut bernama iPhone Ultra . Produk tersebut diperkirakan akan diperkenalkan pada Rabu (9/9/2026) waktu Indonesia dan menjadi salah satu perangkat paling dinantikan dalam perkembangan lini iPhone. Jika kabar...

09 Sep 2026