Ketika perhatian dunia tertuju pada kota-kota besar China seperti Beijing, Shanghai, Shenzhen, dan Guangzhou sebagai pusat perkembangan teknologi, negara tersebut justru mulai membangun sebagian infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dari wilayah yang jauh dari pusat ekonomi utama.
Salah satu contohnya adalah Ulanqab, sebuah kota di wilayah Mongolia Dalam yang secara geografis berada cukup jauh dari pusat teknologi China. Kota dengan jumlah penduduk kurang dari 2 juta jiwa tersebut kini berkembang menjadi salah satu lokasi penting dalam pembangunan infrastruktur pusat data.
Lokasinya yang berada di kawasan padang rumput dan memiliki ruang terbuka luas membuat Ulanqab menawarkan karakteristik yang berbeda dibandingkan kota-kota besar di China bagian timur. Di tengah meningkatnya kebutuhan komputasi akibat perkembangan AI, ketersediaan lahan dan energi menjadi faktor yang semakin menentukan lokasi pembangunan pusat data.
Ulanqab berada sekitar 350 kilometer di sebelah barat laut Beijing. Meski tidak memiliki citra sebagai kota teknologi seperti pusat ekonomi lainnya, kawasan ini menjadi bagian dari strategi China untuk memindahkan sebagian kapasitas komputasi dari wilayah timur yang semakin padat menuju kawasan barat dan utara.
Perubahan tersebut tidak terjadi tanpa alasan. Pertumbuhan AI membuat kebutuhan terhadap pusat data meningkat dengan cepat. Model AI modern membutuhkan kemampuan komputasi dalam jumlah besar, sementara pengoperasian server membutuhkan listrik dan sistem pendinginan yang juga sangat intensif.
Di kota-kota besar, pembangunan pusat data menghadapi sejumlah keterbatasan. Harga tanah relatif tinggi, kepadatan penduduk besar, kebutuhan listrik terus meningkat, dan infrastruktur perkotaan harus berbagi sumber daya dengan berbagai sektor ekonomi lainnya.
Sebaliknya, wilayah seperti Mongolia Dalam menawarkan ruang yang lebih luas untuk membangun fasilitas berskala besar. Ketersediaan lahan memungkinkan perusahaan mengembangkan pusat data tanpa harus menghadapi keterbatasan ruang seperti di kawasan metropolitan.
Selain lahan, faktor energi juga menjadi pertimbangan utama. Pusat data membutuhkan pasokan listrik yang stabil selama 24 jam. Gangguan pasokan listrik dapat memengaruhi operasional server dan berbagai layanan digital yang bergantung pada fasilitas tersebut.
Wilayah yang memiliki sumber energi relatif melimpah dapat menjadi pilihan menarik bagi perusahaan teknologi. China sendiri terus mengembangkan berbagai sumber energi, termasuk energi terbarukan, di sejumlah wilayah yang berada jauh dari pusat-pusat ekonomi tradisional.
AI Mengubah Peta Infrastruktur Teknologi
Perkembangan AI membuat pusat data memiliki posisi semakin strategis dalam industri teknologi. Jika sebelumnya pusat data banyak dibangun mengikuti kedekatan dengan pusat bisnis dan konsumen, kebutuhan komputasi AI membuat pertimbangan lokasi menjadi lebih kompleks.
Model AI membutuhkan perangkat komputasi berperforma tinggi yang mengonsumsi energi dalam jumlah besar. Ketika jumlah pengguna meningkat dan model semakin kompleks, kapasitas pusat data juga harus terus ditambah.
Kondisi tersebut membuat perusahaan harus mencari lokasi yang mampu menyediakan kombinasi antara lahan, listrik, jaringan telekomunikasi, dan infrastruktur pendukung lainnya.
Ulanqab menjadi salah satu gambaran bagaimana kebutuhan tersebut dapat mengubah peta geografis industri teknologi. Kota yang sebelumnya mungkin tidak masuk dalam daftar utama pusat teknologi kini mendapatkan perhatian karena memiliki kondisi yang mendukung pembangunan infrastruktur digital berskala besar.
Di kawasan pembangunan pusat data tersebut, aktivitas konstruksi menunjukkan besarnya investasi yang sedang berlangsung. Para pekerja terlihat keluar dari lokasi pembangunan pada Jumat siang. Kehadiran pekerja, kendaraan proyek, dan fasilitas pendukung menjadi gambaran bahwa pembangunan infrastruktur digital dapat memberikan dampak langsung terhadap aktivitas ekonomi daerah.
Pembangunan pusat data bukan hanya membutuhkan server dan perangkat teknologi. Proyek tersebut membutuhkan konstruksi bangunan, sistem kelistrikan, jaringan komunikasi, keamanan, pendinginan, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya.
Dengan demikian, kehadiran pusat data dapat menciptakan permintaan terhadap tenaga kerja dan jasa lokal selama proses pembangunan maupun setelah fasilitas mulai beroperasi.
Memindahkan Beban Komputasi dari Kota Besar
Strategi pembangunan pusat data dari wilayah pinggiran juga berkaitan dengan persoalan distribusi kapasitas komputasi.
Wilayah timur China selama bertahun-tahun menjadi pusat aktivitas ekonomi dan teknologi. Konsentrasi perusahaan teknologi, industri, dan pengguna internet membuat kebutuhan terhadap layanan digital sangat tinggi.
Namun, konsentrasi tersebut juga menciptakan tekanan terhadap infrastruktur. Pembangunan fasilitas komputasi dalam jumlah besar di wilayah metropolitan tidak selalu menjadi pilihan paling efisien.
Karena itu, memindahkan sebagian pekerjaan komputasi ke wilayah dengan sumber daya yang lebih tersedia dapat menjadi solusi. Pusat data di wilayah yang lebih jauh dapat menangani pekerjaan tertentu, sementara pusat data yang berada lebih dekat dengan pengguna dapat difokuskan pada layanan yang membutuhkan latensi rendah.
Konsep tersebut pada akhirnya menciptakan jaringan infrastruktur komputasi yang tersebar di berbagai wilayah, bukan hanya terpusat di kota-kota besar.
Energi Hijau Menjadi Faktor Penting
Salah satu alasan lain mengapa wilayah seperti Mongolia Dalam menarik perhatian adalah peluang penggunaan energi dengan biaya yang lebih kompetitif dan potensi sumber energi terbarukan.
Pusat data merupakan fasilitas yang membutuhkan listrik dalam jumlah besar dan beroperasi sepanjang waktu. Karena itu, sumber listrik menjadi bagian penting dalam menentukan biaya operasional.
Penggunaan energi terbarukan juga semakin mendapat perhatian seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak lingkungan industri teknologi. Perusahaan teknologi global menghadapi tekanan untuk mengurangi emisi dari operasional pusat data mereka.
Jika pusat data dapat memanfaatkan sumber energi terbarukan yang tersedia di wilayah tersebut, kebutuhan komputasi yang besar dapat diimbangi dengan penggunaan energi yang lebih bersih.
Namun, pembangunan pusat data di wilayah terpencil juga memiliki tantangan. Infrastruktur jaringan harus cukup kuat untuk menghubungkan fasilitas tersebut dengan pusat bisnis dan pengguna. Selain itu, perusahaan harus memastikan ketersediaan tenaga kerja, pemeliharaan fasilitas, keamanan, serta distribusi perangkat keras.
Jarak dari pusat kota juga dapat menjadi persoalan apabila fasilitas membutuhkan komponen tertentu secara cepat. Oleh sebab itu, pembangunan pusat data membutuhkan perencanaan yang jauh lebih kompleks dibandingkan sekadar menyediakan lahan.
China Bersiap Menghadapi Era Komputasi AI
Perkembangan Ulanqab menunjukkan bahwa persaingan teknologi China tidak hanya berlangsung di gedung perkantoran perusahaan teknologi atau laboratorium penelitian di kota-kota besar.
Infrastruktur fisik yang menopang AI juga menjadi bagian penting dari strategi teknologi nasional. Pusat data, jaringan listrik, sistem pendinginan, dan konektivitas internet menjadi fondasi yang menentukan seberapa besar kapasitas AI dapat dikembangkan.
Semakin maju teknologi AI, semakin besar pula kebutuhan terhadap infrastruktur tersebut. Perusahaan yang mengembangkan model AI membutuhkan kemampuan komputasi untuk melatih model, menjalankan layanan, menyimpan data, dan melayani permintaan pengguna dalam jumlah besar.
Kondisi ini membuat wilayah yang sebelumnya dianggap sebagai daerah pinggiran dapat memperoleh peran baru dalam ekonomi digital.
Ulanqab menjadi contoh bahwa masa depan teknologi tidak selalu harus dibangun di tengah kota metropolitan. Ketika kebutuhan terhadap lahan dan energi meningkat, wilayah yang memiliki sumber daya tersebut justru dapat menjadi lokasi strategis bagi pembangunan pusat data.
Bagi China, strategi ini juga dapat membantu mendistribusikan pembangunan infrastruktur digital ke berbagai wilayah. Sementara bagi daerah seperti Mongolia Dalam, masuknya investasi pusat data berpotensi membuka aktivitas ekonomi baru dan memperkuat posisi kawasan tersebut dalam rantai industri teknologi.
Pada akhirnya, perkembangan AI tidak hanya mengubah cara manusia bekerja dan berinteraksi dengan teknologi, tetapi juga mengubah lokasi tempat teknologi itu sendiri dibangun. Di balik aplikasi AI yang dapat digunakan dari smartphone atau komputer, terdapat pusat-pusat komputasi raksasa yang membutuhkan ruang, listrik, jaringan, dan sistem pendinginan dalam skala besar.
Dan di China, sebagian fondasi era AI tersebut kini justru sedang dibangun jauh dari pusat kota, di kawasan yang sebelumnya lebih dikenal sebagai wilayah padang rumput dan ruang terbuka daripada pusat teknologi.