Jakarta, Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan performa impresif pada perdagangan Senin (10/8/2026) pagi. Mata uang Garuda tercatat berada di level Rp17.816 per dolar AS, menguat 81 poin atau 0,45 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Penguatan ini menjadikan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan apresiasi terbesar di kawasan Asia. Berdasarkan data Reuters pada pukul 09.13 WIB, rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp17.820 per dolar AS dengan penguatan 0,36 persen. Sementara itu, mengutip data Bloomberg, rupiah membuka perdagangan di level Rp17.813 per dolar AS, menguat 0,46 persen atau 84 poin. Beberapa sumber lain mencatat rupiah bergerak di kisaran Rp17.810 hingga Rp17.820 sepanjang pagi hari.
Pencapaian ini semakin mengukuhkan posisi rupiah sebagai mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia pada pagi ini, mengalahkan sejumlah mata uang kawasan lainnya. Peso Filipina tercatat menguat 0,26 persen, ringgit Malaysia terapresiasi 0,07 persen, dan yuan China naik tipis 0,01 persen. Di sisi lain, sejumlah mata uang Asia justru tertekan, dengan won Korea Selatan melemah 0,59 persen, yen Jepang turun 0,32 persen, dan dolar Singapura terkoreksi 0,08 persen. Dari kelompok mata uang negara maju, mayoritas juga bergerak melemah, termasuk euro Eropa yang turun 0,05 persen, poundsterling Inggris yang melemah 0,01 persen, dolar Australia yang terkoreksi 0,04 persen, dan franc Swiss yang turun 0,11 persen.
Data Tenaga Kerja AS Jadi Pendorong Utama
Penguatan rupiah hari ini tidak terlepas dari sentimen eksternal yang datang dari Amerika Serikat. Data ketenagakerjaan AS periode Juli yang dirilis pada akhir pekan lalu menunjukkan hasil jauh di bawah ekspektasi pasar. Perekonomian AS secara tidak terduga kehilangan lapangan kerja pada Juli, sementara penambahan tenaga kerja pada dua bulan sebelumnya juga direvisi turun cukup tajam, mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja Negeri Paman Sam tidak sekuat perkiraan awal.
Data Non-Farm Payrolls (NFP) AS periode Juli 2026 tercatat menunjukkan pelemahan yang signifikan. Kondisi ini meredam ekspektasi pelaku pasar bahwa bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) akan menaikkan suku bunga pada pertemuan September mendatang. Peluang kenaikan suku bunga kini diperkirakan hanya sekitar 44 persen, turun drastis dari 67 persen pada pekan sebelumnya.
Pelemahan data tenaga kerja AS ini turut menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury). Yield US Treasury tenor 10 tahun turun ke sekitar 4,637 persen, sehingga mengurangi daya tarik dolar AS dan memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat.
Indeks Dolar AS Masih di Bawah Level 100
Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pagi hari ini memang sempat terpantau menguat 0,12 persen ke posisi 99,666. Namun, posisi tersebut masih berada di bawah level psikologis 100 dan bertahan di dekat level terendahnya dalam dua bulan terakhir sejak awal Juni.
Geoff Yu, senior EMEA market strategist BNY, menilai sinyal pelemahan pasar tenaga kerja AS telah menurunkan ekspektasi suku bunga riil dan memperpanjang tren pelemahan dolar AS. "Sinyal pasar tenaga kerja AS yang lebih lemah telah menurunkan ekspektasi suku bunga riil dan memperpanjang penurunan dolar AS," tulis Yu dalam catatannya, dikutip dari Reuters.
Proyeksi dan Sentimen Lainnya
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa rupiah berpotensi terus menguat terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini, didorong oleh data pekerjaan AS yang mengecewakan yang memicu menurunnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed. Namun, ia juga mengingatkan bahwa penguatan rupiah berpotensi tertahan oleh ketidakpastian terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. "Ketidakpastian pembukaan kembali Selat Hormuz bisa menahan penguatan," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com. Ia memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.950 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Perhatian pasar global selanjutnya akan tertuju pada data inflasi AS yang direncanakan akan dirilis pekan ini. Konsensus memperkirakan inflasi inti pada Juli naik 0,2 persen secara bulanan, sedangkan secara tahunan melandai menjadi 2,5 persen dari 2,6 persen pada Juni. Data inflasi ini akan menjadi petunjuk penting mengenai langkah The Fed berikutnya. Inflasi yang terus melandai dapat semakin mengurangi peluang pengetatan moneter, sementara data yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi kembali mengangkat dolar AS.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) dijadwalkan akan merilis Survei Konsumen periode Juli pada hari ini. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) diperkirakan turun menjadi 116 dari 117,8 pada Juni. Data ini akan menjadi indikator tambahan bagi pelaku pasar dalam menilai prospek ekonomi domestik ke depan.
Kinerja Rupiah Sepanjang 2026
Meski mencatat penguatan pada perdagangan hari ini, perlu dicatat bahwa kinerja rupiah sepanjang 2026 masih tergolong sebagai salah satu yang terlemah di kawasan. Dari posisi akhir 2025 sebesar Rp16.670 per dolar AS, rupiah telah melemah 6,45 persen secara year-to-date. Pelemahan ini lebih dalam dibandingkan baht Thailand yang terdepresiasi 4,70 persen, rupee India 5,61 persen, dan peso Filipina 3,26 persen.
Dengan demikian, penguatan rupiah pada perdagangan Senin ini menjadi sinyal positif yang cukup menggembirakan di tengah tekanan yang masih membayangi mata uang Garuda sepanjang tahun berjalan. Pergerakan rupiah selanjutnya masih akan sangat dipengaruhi oleh arah dolar AS dan sentimen pasar global, di tengah perhatian investor terhadap kondisi ekonomi dan kebijakan moneter negara-negara utama.