Krisis ekonomi, pandemi, atau ketidakpastian makro selalu membawa paradoks menarik dalam perilaku konsumen. Logika dasar ekonomi menyatakan bahwa saat pendapatan menurun dan harga melambung, manusia harus menekan pengeluaran dan mengamankan simpanan. Namun, kenyataan di lapangan justru seringkali berbanding terbalik. Fenomena ini melahirkan sebuah pertanyaan besar: Apakah pola konsumsi di tengah krisis merupakan strategi bertahan hidup yang rasional, atau sekadar bentuk pelarian dari kecemasan?
Sudut pandang pertama menyoroti apa yang kita sebut sebagai survival mode. Secara genetis, otak kita memang dirancang untuk bertahan hidup dengan cara mengamankan kebutuhan saat ada ancaman. Di era modern, insting purba ini menjelma menjadi aksi borong (panic buying) atau menimbun barang pokok. Menariknya, psikologi di balik fenomena ini bukan karena masyarakat serakah, melainkan bentuk perjuangan psikologis untuk merebut kembali rasa kendali. Saat situasi ekonomi carut-marut, kebijakan pemerintah kerap berubah-ubah, ditambah lagi lini masa media sosial dibombardir berita buruk. Karena tidak berdaya mengubah keadaan makro tersebut, manusia memilih mengendalikan hal kecil yang paling dekat dengan mereka: keranjang belanjaan. Membeli barang secara berlebihan menciptakan ilusi bahwa kita masih berkuasa atas nasib sendiri. Pada titik ini, konsumsi didorong oleh ketakutan akan kehilangan (loss aversion) dan efek ikut-ikutan (herd mentality), di mana ada rasa aman semu saat kita mengekor tindakan orang banyak.
Tapi anehnya, di sudut yang berbeda, ada perilaku belanja yang malah berbanding terbalik dan kelihatan nggak masuk akal: pelarian (escapism). Kok bisa ya, orang-orang malah rela habisin tabungan buat beli barang branded, makanan estetik, atau top-up game saat dompet lagi tipis-tipisnya? Ternyata, kuncinya ada pada kebutuhan untuk menghibur diri secara emosional. Fenomena retail therapy, alias belanja buat mengobati stres dan rasa cemas, justru sering kali melonjak drastis pas lagi krisis.
Sewaktu kita keseringan doomscrolling alias hobi mantengin berita buruk di media sosial, hormon stres atau kortisol di tubuh kita bakal langsung naik drastis. Nah, buat mengimbanginya, aktivitas membeli barang-barang yang nggak terlalu penting—kayak jajan kopi susu premium di siang hari pas lagi kerja—bisa memicu keluarnya hormon dopamin yang bikin kita merasa happy seketika. Ini sebenarnya taktik bawah sadar kita buat kabur dari kenyataan yang bikin stres. Jadi dalam kondisi ini, kita tuh bukan lagi butuh fungsi barangnya, tapi kita lagi beli 'perasaan nyaman' dan pengalihan isu biar nggak ikutan panik sama situasi dunia.
Selain itu, konsumsi di tengah krisis juga erat kaitannya dengan identitas sosial dan konsumsi kompensatori. Saat seseorang merasa status ekonominya terancam atau masa depannya suram, ia cenderung menggunakan konsumsi sebagai perisai ego. Memakai merek tertentu atau memamerkan gaya hidup tertentu di media sosial menjadi cara untuk membuktikan kepada diri sendiri dan orang lain bahwa "saya tidak terdampak". Ini adalah upaya psikologis untuk menjaga harga diri dari rasa rendah diri yang ditimbulkan oleh situasi krisis.
Jadi kalau melihat fenomena ini, kita nggak bisa lagi menilai cara orang belanja pas krisis cuma pakai logika matematika atau hitung-hitungan hemat semata. Ini tuh udah jadi urusan perang mental. Uniknya, mode bertahan hidup (survival) dan pelarian (escapism) bisa berjalan barengan di dalam diri satu orang yang sama. Contohnya nih, bisa aja pagi harinya kita panik lalu nyetok beras dan minyak goreng di rumah, tapi sore harinya kita malah rela keluar uang buat nonton bioskop atau pesan makanan enak lewat aplikasi online demi bisa healing tipis-tipis.
Memahami peta psikologi di balik perilaku ini menjadi teramat penting. Bagi pelaku usaha, fenomena ini adalah celah matang untuk memasarkan produk yang tidak sekadar menawarkan fungsi fisik, tetapi juga menjanjikan oase 'ketenangan' atau nilai 'pengalaman'. Sementara bagi kita selaku konsumen, kesadaran ini dapat bertransformasi menjadi tameng pelindung. Dengan mengenali apakah dorongan belanja saat ini berakar dari kebutuhan riil atau sekadar pelarian untuk menenangkan mental yang carut-marut, kita dapat memutus rantai perilaku boros yang merugikan. Karena pada dasarnya, di tengah badai krisis, benteng pertahanan terkuat bukanlah seberapa menumpuknya stok logistik di gudang kita, melainkan seberapa kokoh dan sadarnya kita dalam menjaga stabilitas batin.