Open Trip Gunung Dukono Berujung Maut, Polisi Tetapkan Pemandu Pendakian Jadi Tersangka

S Syakira Eliana 23 Mei 2026 6 dilihat 5 menit baca

Kepolisian Resor Halmahera Utara resmi menetapkan Muh Reza Selang alias Anak Esa sebagai tersangka dalam kasus tragedi erupsi Gunung Dukono yang menewaskan tiga pendaki pada awal Mei 2026. Reza diketahui merupakan penyedia layanan open trip sekaligus pemandu rombongan pendaki yang berada di kawasan gunung saat letusan terjadi.

Penetapan status tersangka diumumkan setelah penyidik melakukan serangkaian pemeriksaan dan gelar perkara terkait insiden yang terjadi pada Jumat, 8 Mei 2026. Polisi menyebut keputusan tersebut diambil berdasarkan hasil penyelidikan mendalam, pemeriksaan saksi, hingga pendapat ahli pidana mengenai dugaan unsur kelalaian dalam kegiatan pendakian tersebut.

Kapolres Halmahera Utara AKBP Erlichson Pasaribu menjelaskan bahwa sedikitnya sebelas orang saksi telah dimintai keterangan dalam proses penyidikan. Para saksi berasal dari berbagai pihak, termasuk pendaki yang selamat, petugas pengawas gunung api, hingga pihak terkait lainnya yang mengetahui aktivitas pendakian sebelum tragedi terjadi.

Dari hasil penyidikan, polisi menemukan adanya dugaan kuat bahwa kegiatan pendakian tetap dilakukan meskipun pemerintah daerah sebelumnya telah mengeluarkan larangan resmi terkait aktivitas di kawasan Gunung Dukono. Larangan tersebut dikeluarkan menyusul meningkatnya aktivitas vulkanik gunung yang berstatus Level II atau Waspada.

Penyidik menilai tersangka tetap membuka layanan open trip demi kepentingan bisnis meskipun mengetahui adanya potensi bahaya di kawasan pendakian. Polisi kemudian menjerat tersangka menggunakan Pasal 474 ayat 3 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana terkait kealpaan atau kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lain.

Dalam pasal tersebut, tersangka terancam hukuman pidana penjara maksimal lima tahun atau denda hingga Rp500 juta. Polisi menyebut proses hukum akan terus berjalan sambil melengkapi berkas perkara sebelum dilimpahkan ke tahap berikutnya.

Kasus ini bermula ketika rombongan pendaki yang dipandu Reza melakukan perjalanan menuju kawasan Gunung Dukono pada Jumat pagi. Gunung Dukono sendiri merupakan salah satu gunung api aktif di Indonesia yang berada di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. Gunung tersebut dikenal memiliki aktivitas vulkanik yang cukup tinggi dan kerap mengalami erupsi dalam periode tertentu.

Sebelum kejadian, Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara melalui Dinas Pariwisata sebenarnya telah mengeluarkan surat edaran mengenai penutupan seluruh aktivitas pendakian di Gunung Dukono sejak 17 April 2026. Kebijakan tersebut diterbitkan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bahaya akibat peningkatan aktivitas vulkanik.

Namun, berdasarkan hasil penyidikan, tersangka diduga tetap membuka perjalanan wisata pendakian meskipun mengetahui adanya larangan tersebut. Polisi juga menemukan bahwa pendakian dilakukan tanpa koordinasi maupun pelaporan kepada pos pemantauan gunung api yang dijaga oleh petugas Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau PVMBG.

Ketidakhadiran koordinasi dengan petugas pengawas gunung dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam kasus ini. Dalam prosedur keselamatan pendakian gunung api aktif, komunikasi dengan pos pemantauan dianggap penting untuk mengetahui kondisi terkini aktivitas vulkanik sebelum perjalanan dilakukan.

Gunung Dukono diketahui hampir terus-menerus mengeluarkan abu vulkanik dan memiliki karakter erupsi yang sulit diprediksi sepenuhnya. Meski statusnya berada di Level II atau Waspada, kondisi tersebut tetap dianggap memiliki risiko tinggi bagi aktivitas manusia di sekitar kawah maupun jalur pendakian tertentu.

Tragedi maut tersebut terjadi sekitar pukul 07.41 WIT ketika rombongan pendaki telah berada di kawasan puncak gunung. Saat itu, Gunung Dukono tiba-tiba mengalami erupsi dan memuntahkan material vulkanik ke area sekitar pendaki.

Material berupa batu panas dan lontaran vulkanik dilaporkan menghujani kawasan pendakian dalam waktu singkat. Situasi di lokasi langsung berubah panik karena sebagian pendaki berupaya menyelamatkan diri di tengah medan yang sulit dan jarak pandang yang terganggu akibat abu vulkanik.

Sebanyak 20 orang diketahui berada dalam rombongan pendakian tersebut. Dari jumlah itu, 17 orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat meskipun beberapa di antaranya mengalami luka akibat terkena material vulkanik maupun terjatuh saat berusaha menghindari erupsi.

Lima pendaki dilaporkan mengalami luka-luka dan harus mendapatkan perawatan medis setelah dievakuasi dari lokasi kejadian. Sementara itu, tiga pendaki lainnya ditemukan meninggal dunia akibat hantaman material vulkanik yang terlontar saat erupsi berlangsung.

Korban meninggal terdiri dari satu warga Indonesia bernama Angel Krishela Pradita yang berasal dari Ternate dan Jayapura, serta dua warga negara asing asal Singapura, yaitu Heng Wen Qiang Timothy berusia 30 tahun dan Shahin Muhrez bin Abdul Hamid berusia 27 tahun.

Kematian dua wisatawan asing dalam tragedi tersebut turut menarik perhatian luas karena menyangkut aspek keselamatan wisata pendakian di kawasan gunung api aktif Indonesia. Sejumlah pihak kemudian mempertanyakan sistem pengawasan aktivitas wisata ekstrem di daerah rawan bencana, termasuk pengawasan terhadap penyelenggara open trip yang beroperasi secara mandiri.

Dalam proses penyidikan, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti dari lokasi kejadian. Barang bukti tersebut di antaranya satu unit telepon genggam dalam kondisi rusak, tas gunung, tas rompi punggung, tongkat pendaki atau trekking pole yang rusak, serta tas perlengkapan drone merek DJI tanpa kamera.

Barang-barang tersebut diamankan untuk memperkuat proses penyidikan sekaligus merekonstruksi situasi saat erupsi terjadi. Polisi juga masih mendalami kemungkinan adanya unsur pelanggaran lain terkait prosedur keselamatan perjalanan wisata pendakian.

Kasat Reskrim Polres Halmahera Utara Iptu Rinaldi Anwar mengatakan bahwa pihak kepolisian telah melayangkan surat panggilan resmi kepada tersangka untuk menjalani pemeriksaan lanjutan. Pemeriksaan dijadwalkan dilakukan dalam waktu dekat setelah tersangka kembali dari Ternate.

Kasus ini kembali memunculkan sorotan terhadap tren wisata alam ekstrem yang semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Aktivitas pendakian gunung aktif kini tidak hanya diminati wisatawan lokal, tetapi juga wisatawan mancanegara yang tertarik melihat fenomena alam secara langsung.

Di sisi lain, meningkatnya popularitas wisata ekstrem juga diiringi dengan bertambahnya jumlah penyelenggara perjalanan atau open trip yang menawarkan pengalaman pendakian dengan biaya relatif terjangkau. Namun, tidak seluruh penyelenggara memiliki standar keselamatan dan prosedur mitigasi risiko yang memadai.

Pengamat kebencanaan menilai bahwa aktivitas wisata di kawasan gunung api aktif memerlukan pengawasan ketat karena kondisi alam dapat berubah sewaktu-waktu. Status gunung yang tampak stabil dalam beberapa jam sebelumnya tidak selalu menjamin situasi aman bagi pendaki.

Selain faktor alam, koordinasi antarinstansi dan kepatuhan terhadap larangan resmi juga menjadi bagian penting dalam pencegahan tragedi serupa. Dalam banyak kasus bencana wisata alam, unsur kelalaian sering kali muncul ketika peringatan keselamatan diabaikan demi kepentingan ekonomi atau tingginya minat wisatawan.

Peristiwa di Gunung Dukono kini menjadi salah satu tragedi pendakian paling mematikan di Indonesia sepanjang tahun 2026. Di tengah lanskap vulkanik yang tampak tenang dari kejauhan, erupsi tersebut kembali mengingatkan bahwa gunung api aktif menyimpan risiko yang dapat berubah dalam hitungan menit, seperti bumi yang sewaktu-waktu membuka pintunya tanpa peringatan panjang.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
S

Ditulis oleh

Syakira Eliana

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

4,8 Juta Pelanggan PLN Masih Alami Gangguan Listrik di Sumatra

4,8 Juta Pelanggan PLN Masih Alami Gangguan Listrik di Sumatra

PT PLN (Persero) melaporkan bahwa hingga Sabtu (23 Mei 2026) pagi, masih ada sekitar 4,8 juta pelanggan di wilayah Sumatra yang mengalami gangguan pasokan listrik. Pemadaman massal ini bermula sejak Jumat (22 Mei 2026) malam akibat gangguan pada sistem transmisi...

23 Mei 2026

Isu Manusia Berkedok Pocong Mengetuk Rumah Warga di Beberapa Kawasan, Diduga Hendak Beraksi Kriminal Sambil Membawa Senjata Tajam

Isu Manusia Berkedok Pocong Mengetuk Rumah Warga di Beberapa Kawasan, Diduga Hendak Beraksi Kriminal Sambil Membawa Senjata Tajam

JAKARTA TIMUR — Keresahan mendalam tengah melanda warga di beberapa kawasan permukiman di Jakarta Timur selama sepekan terakhir. Kegemparan ini dipicu oleh munculnya isu mengenai sosok berbalut kain putih menyerupai pocong yang dilaporkan kerap berkeliaran di lingkungan permukiman padat penduduk...

23 Mei 2026

Fenomena Langka Parade Lima Planet Sejajar di Langit Fajar Dapat Disaksikan Secara Langsung Tanpa Alat Bantu Sepanjang Pekan Ini

Fenomena Langka Parade Lima Planet Sejajar di Langit Fajar Dapat Disaksikan Secara Langsung Tanpa Alat Bantu Sepanjang Pekan Ini

JAKARTA - Para pencinta astronomi dan masyarakat luas disuguhkan oleh pemandangan kosmos yang menakjubkan setelah fenomena langka berupa konjungsi sejajar lima planet secara serentak mulai menghiasi langit subuh di seluruh wilayah Indonesia. Peristiwa alam yang dikenal di dunia sains dengan...

23 Mei 2026

Pantura Terancam Tenggelam, Kabar Tanggul Raksasa Menguap Begitu Saja?

Pantura Terancam Tenggelam, Kabar Tanggul Raksasa Menguap Begitu Saja?

Banjir rob makin parah, rumah makin dekat ke permukaan laut, tapi proyek perlindungan pantai utara Jawa seolah jalan di tempat. Ada apa sebenarnya? Warga Pluit, Demak, dan Pekalongan sudah tahu rasanya: pagi hari bangun tidur, lantai rumah sudah digenangi air...

23 Mei 2026