Teh Hijau vs Kopi, Mana yang Lebih ‘Ampuh’ untuk Buang Lemak?

H Herman 28 Agu 2026 6 dilihat 5 menit baca

Teh hijau dan kopi merupakan dua jenis minuman yang cukup populer di kalangan masyarakat, termasuk mereka yang sedang berusaha menurunkan berat badan. Keduanya mengandung kafein dan sejumlah senyawa aktif yang dapat memengaruhi metabolisme tubuh serta penggunaan energi. Karena itu, tidak sedikit orang yang menganggap kopi atau teh hijau sebagai minuman pendukung program diet.

Pertanyaannya, di antara teh hijau dan kopi, mana yang lebih ampuh untuk membantu membakar lemak?

Jawabannya tidak sesederhana memilih salah satu. Baik kopi maupun teh hijau memiliki karakteristik dan kandungan yang berbeda. Efeknya terhadap metabolisme juga dapat berbeda pada setiap orang. Selain itu, keberhasilan menurunkan berat badan tetap lebih banyak ditentukan oleh keseimbangan antara jumlah kalori yang dikonsumsi dan energi yang digunakan tubuh.

Kopi dikenal sebagai salah satu sumber kafein yang cukup tinggi. Kafein merupakan senyawa stimulan yang dapat meningkatkan kewaspadaan dan membantu tubuh tetap aktif. Dalam konteks metabolisme, kafein juga dapat memberikan efek sementara terhadap penggunaan energi dan proses pemecahan lemak.

Ketika seseorang mengonsumsi kopi tanpa tambahan gula, krimer, susu tinggi kalori, atau sirup, jumlah kalorinya relatif rendah. Hal ini membuat kopi hitam dapat menjadi pilihan minuman bagi orang yang sedang mengontrol asupan kalori. Namun, manfaat tersebut dapat berkurang apabila kopi dikonsumsi dengan banyak gula atau bahan tambahan lainnya.

Kafein dalam kopi juga dapat membantu meningkatkan energi sebelum melakukan aktivitas fisik. Sebagian orang merasa lebih bersemangat berolahraga setelah mengonsumsi kopi. Aktivitas fisik yang dilakukan secara konsisten tentu mempunyai peran jauh lebih besar dalam proses penurunan berat badan dibandingkan mengandalkan minuman tertentu.

Sementara itu, teh hijau memiliki kandungan kafein, tetapi umumnya tidak sebanyak kopi. Keunggulan lain teh hijau adalah keberadaan katekin, khususnya epigallocatechin gallate atau EGCG. Senyawa tersebut banyak menjadi perhatian dalam penelitian mengenai metabolisme dan oksidasi lemak.

Kombinasi kafein dan katekin pada teh hijau diduga dapat memberikan pengaruh terhadap proses penggunaan energi tubuh. Namun, efeknya tidak berarti bahwa minum teh hijau secara otomatis membuat lemak tubuh hilang dalam jumlah besar. Pengaruh tersebut cenderung relatif kecil jika dibandingkan dengan dampak pola makan dan aktivitas fisik secara keseluruhan.

Karena itu, istilah "membuang lemak" perlu dipahami dengan tepat. Tubuh memang dapat menggunakan lemak sebagai sumber energi, tetapi penurunan lemak tubuh secara nyata membutuhkan kondisi defisit kalori yang berlangsung secara konsisten. Artinya, energi yang digunakan tubuh harus lebih besar daripada energi yang masuk melalui makanan dan minuman.

Teh hijau memiliki kelebihan lain karena rasanya relatif ringan dan dapat dikonsumsi tanpa tambahan pemanis. Bagi orang yang terbiasa mengonsumsi minuman manis, mengganti minuman tersebut dengan teh hijau tanpa gula dapat membantu mengurangi asupan kalori harian. Pengurangan kalori dari minuman dapat menjadi langkah sederhana dalam menjalankan pola makan yang lebih terkontrol.

Hal yang sama juga berlaku untuk kopi. Kopi hitam tanpa gula dapat memiliki kalori yang sangat rendah, sehingga tidak memberikan tambahan energi yang besar. Namun, jenis kopi yang menggunakan gula, susu, krimer, whipped cream, atau sirup dapat memiliki jumlah kalori jauh lebih tinggi. Dalam kondisi tertentu, minuman kopi dengan banyak tambahan justru dapat menghambat upaya pengaturan berat badan.

Perbedaan lain terletak pada respons tubuh terhadap kafein. Ada orang yang cukup sensitif terhadap kafein sehingga minum kopi pada sore atau malam hari dapat mengganggu tidur. Padahal, kualitas tidur merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga pola hidup sehat dan mengatur berat badan.

Teh hijau juga mengandung kafein sehingga bukan berarti bebas dari risiko gangguan tidur. Namun, jumlah kafeinnya umumnya lebih rendah dibandingkan kopi. Bagi orang yang sensitif terhadap kafein, waktu konsumsi tetap perlu diperhatikan.

Selain kafein, pola konsumsi juga menjadi faktor penting. Mengonsumsi kopi atau teh hijau dalam jumlah berlebihan tidak akan menggantikan kebutuhan tubuh terhadap makanan bergizi. Tubuh tetap membutuhkan protein, serat, vitamin, mineral, karbohidrat, dan lemak sehat untuk menjalankan berbagai fungsi.

Jika tujuan utama adalah menurunkan berat badan, kopi maupun teh hijau sebaiknya ditempatkan sebagai bagian kecil dari keseluruhan strategi. Pola makan seimbang, olahraga teratur, tidur yang cukup, dan pengelolaan stres tetap menjadi fondasi utama.

Aktivitas fisik, misalnya, dapat membantu meningkatkan pengeluaran energi sekaligus mempertahankan massa otot. Sementara itu, makanan tinggi protein dan serat dapat membantu memberikan rasa kenyang lebih lama sehingga seseorang lebih mudah mengontrol jumlah makanan yang dikonsumsi.

Dari sisi praktis, pilihan antara kopi dan teh hijau dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Kopi mungkin lebih cocok bagi orang yang membutuhkan efek kafein lebih kuat untuk meningkatkan kewaspadaan atau mendukung aktivitas sebelum olahraga. Sebaliknya, teh hijau dapat menjadi pilihan bagi mereka yang menginginkan minuman dengan kandungan kafein lebih rendah sekaligus memperoleh senyawa polifenol seperti katekin.

Namun, tidak ada bukti bahwa salah satu minuman tersebut dapat menggantikan defisit kalori sebagai faktor utama penurunan berat badan. Efek pembakaran lemak dari kafein maupun senyawa aktif dalam teh hijau tidak boleh dianggap sebagai solusi instan.

Cara mengonsumsi juga tidak kalah penting. Jika memilih kopi, sebaiknya perhatikan jumlah gula dan bahan tambahan. Jika memilih teh hijau, konsumsi tanpa gula merupakan pilihan yang lebih sesuai bagi orang yang sedang membatasi kalori. Selain itu, jumlah konsumsi perlu disesuaikan dengan toleransi tubuh terhadap kafein.

Pada akhirnya, kopi dan teh hijau sama-sama dapat menjadi bagian dari pola hidup sehat. Keduanya memiliki kandungan yang berpotensi mendukung metabolisme, tetapi efeknya terhadap penurunan lemak tubuh relatif terbatas jika berdiri sendiri.

Jadi, mana yang lebih ampuh untuk membakar lemak? Tidak ada pemenang mutlak. Kopi memiliki kandungan kafein yang umumnya lebih tinggi, sedangkan teh hijau menawarkan kombinasi kafein dan katekin. Pilihan terbaik adalah minuman yang dapat dikonsumsi tanpa tambahan kalori berlebihan dan sesuai dengan kondisi tubuh masing-masing.

Yang paling menentukan tetap bukan sekadar memilih kopi atau teh hijau, melainkan bagaimana seseorang menjalankan pola makan, aktivitas fisik, tidur, dan gaya hidup secara konsisten. Dengan demikian, kedua minuman tersebut sebaiknya dipandang sebagai pendukung, bukan sebagai jalan pintas untuk menurunkan berat badan.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
H

Ditulis oleh

Herman

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

DPR Soroti Kesejahteraan Gaji Nakes Lebih Rendah dari Hakim

DPR Soroti Kesejahteraan Gaji Nakes Lebih Rendah dari Hakim

Kesejahteraan tenaga kesehatan (nakes) kembali menjadi perhatian Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris menilai kondisi pendapatan sebagian tenaga kesehatan di Indonesia masih jauh dari kata layak. Sorotan tersebut muncul dalam rapat kerja Komisi...

28 Agu 2026

Kepala BGN: Tidak Semua Guru Cicipi MBG, Hanya Sebagian Terlibat Pengawasan

Kepala BGN: Tidak Semua Guru Cicipi MBG, Hanya Sebagian Terlibat Pengawasan

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono memberikan penjelasan terkait sorotan publik mengenai keterlibatan guru dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah. Pernyataan tersebut disampaikan setelah muncul berbagai pembahasan di media sosial mengenai guru yang disebut ikut mencicipi makanan...

28 Agu 2026

Cek 30 Arti Mimpi Membeli Emas, Buat Untung atau Rugi?

Cek 30 Arti Mimpi Membeli Emas, Buat Untung atau Rugi?

Mimpi membeli emas menjadi salah satu pengalaman tidur yang cukup menarik perhatian. Emas sejak dahulu sering dikaitkan dengan kekayaan, kemakmuran, keberhasilan, status sosial, hingga keamanan finansial. Karena itu, ketika seseorang bermimpi membeli emas, pengalaman tersebut kerap dikaitkan dengan berbagai pertanda...

28 Agu 2026

Investasi Perak vs Emas, Mana yang Cocok untuk Jangka Panjang?

Investasi Perak vs Emas, Mana yang Cocok untuk Jangka Panjang?

Investasi perak dan emas menjadi dua pilihan yang cukup populer bagi masyarakat yang ingin menyimpan kekayaan dalam bentuk aset fisik. Keduanya sama-sama termasuk logam mulia dan dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari strategi diversifikasi portofolio. Namun, karakteristik perak dan emas berbeda...

28 Agu 2026