China Kejar Ketertinggalan Atas Dominasi AI AS, DeepSeek Menguat

H Herman 05 Okt 2026 9 dilihat 4 menit baca

Persaingan kecerdasan buatan (AI) antara Amerika Serikat dan China semakin ketat. Keunggulan perusahaan-perusahaan AI Amerika Serikat atas China disebut terus menyempit dalam beberapa bulan terakhir, setelah sejumlah laboratorium AI China berhasil meningkatkan kemampuan model mereka.

Menurut Bloomberg Intelligence, jarak performa antara model AI teratas China dan Amerika Serikat kini berada pada level paling rendah. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa China mulai mampu mengejar ketertinggalannya dalam industri AI yang selama ini banyak didominasi perusahaan teknologi asal Amerika Serikat.

Model-model AI teratas China kini hanya tertinggal sekitar 3% dari pesaingnya di Amerika Serikat berdasarkan sejumlah skor benchmark. Perubahan tersebut menjadi perhatian karena sebelumnya perbedaan kemampuan antara kedua negara masih jauh lebih besar.

Analis senior Bloomberg Intelligence Robert Lea menyebut perkembangan tersebut dalam laporan yang dirilis pada Senin. Menurutnya, jarak performa AI China terhadap Amerika Serikat menyusut setelah peluncuran DeepSeek V4.1 Flash pada September.

Jika dibandingkan dengan kondisi sebelumnya, kemajuan tersebut cukup signifikan. Pada Mei, model AI China masih tertinggal sekitar 9% dari model Amerika Serikat. Sementara pada awal tahun, selisih performanya bahkan mencapai sekitar 15%.

Penyempitan jarak tersebut menunjukkan bahwa perusahaan dan laboratorium AI China mampu melakukan peningkatan teknologi dalam waktu relatif cepat. DeepSeek menjadi salah satu perusahaan yang mendapatkan perhatian besar dalam perkembangan tersebut.

Kehadiran model-model AI China juga berpotensi mengubah persaingan pasar AI global. Apabila kemampuan teknologi China semakin mendekati perusahaan Amerika Serikat, perusahaan-perusahaan China berpeluang memperoleh pangsa pasar yang lebih besar di berbagai negara.

Persaingan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemampuan model AI. Infrastruktur komputasi, semikonduktor, pusat data, biaya pengembangan, serta kemampuan mengoptimalkan perangkat keras juga menjadi faktor penting dalam menentukan posisi masing-masing negara.

Salah satu keunggulan yang mulai terlihat dari perusahaan AI China adalah kemampuan para peneliti dalam mengoptimalkan model agar dapat berjalan secara efisien pada perangkat keras yang tersedia di dalam negeri.

Kondisi tersebut menjadi semakin penting karena perusahaan China menghadapi berbagai pembatasan akses terhadap teknologi semikonduktor canggih dari Amerika Serikat. Pembatasan tersebut membuat perusahaan China perlu mencari cara lain untuk meningkatkan kemampuan AI tanpa sepenuhnya bergantung pada teknologi asing.

Para peneliti China kemudian semakin fokus pada optimalisasi model, efisiensi komputasi, serta pemanfaatan perangkat keras domestik. Strategi tersebut memungkinkan pengembang AI meningkatkan performa meskipun menghadapi keterbatasan pada akses terhadap chip tertentu.

Perkembangan DeepSeek menjadi salah satu contoh bagaimana pendekatan tersebut dapat memberikan hasil. Kemampuan perusahaan China untuk menghasilkan model dengan performa kompetitif membuat persaingan AI global menjadi semakin terbuka.

Sebelumnya, perusahaan teknologi Amerika Serikat seperti OpenAI, Google, Microsoft, dan sejumlah perusahaan besar lainnya menjadi pusat perhatian dalam pengembangan AI generatif. Mereka memiliki akses terhadap infrastruktur komputasi dan investasi dalam jumlah sangat besar.

Namun, perkembangan AI China menunjukkan bahwa keunggulan teknologi tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal. Kemampuan melakukan penelitian, mengembangkan algoritma, meningkatkan efisiensi model, dan memanfaatkan perangkat keras secara optimal juga memiliki peran penting.

Persaingan AI antara Amerika Serikat dan China juga memiliki dimensi strategis. AI tidak hanya digunakan untuk kebutuhan bisnis dan konsumen, tetapi semakin berkaitan dengan industri, keamanan, penelitian, pertahanan, dan perkembangan ekonomi digital.

Karena itu, kemampuan sebuah negara dalam mengembangkan AI dapat menjadi salah satu faktor yang menentukan daya saing ekonomi dan teknologi dalam jangka panjang.

Pemerintah China sendiri terus mendorong pengembangan teknologi domestik sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap teknologi asing. Perkembangan perusahaan AI lokal menjadi bagian dari strategi tersebut.

Di sisi lain, Amerika Serikat masih memiliki sejumlah keunggulan penting, terutama dalam hal perusahaan teknologi besar, investasi AI, infrastruktur pusat data, ekosistem semikonduktor, dan ketersediaan modal untuk membiayai penelitian serta pengembangan teknologi.

Dengan demikian, menyempitnya selisih performa bukan berarti China telah sepenuhnya mengambil alih dominasi AI dari Amerika Serikat. Namun, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persaingan semakin seimbang dan kemungkinan perubahan peta kekuatan AI global semakin terbuka.

Bagi industri teknologi, persaingan tersebut dapat memberikan dampak positif karena perusahaan dari kedua negara akan terdorong untuk terus meningkatkan kemampuan teknologi mereka. Kompetisi juga dapat mendorong munculnya model AI yang lebih efisien dan terjangkau.

Namun, persaingan teknologi juga berpotensi meningkatkan ketegangan antara kedua negara. Kebijakan pembatasan ekspor chip, pengembangan teknologi domestik, dan perlindungan industri strategis dapat terus menjadi bagian dari rivalitas teknologi Amerika Serikat dan China.

Perkembangan terbaru DeepSeek menunjukkan bahwa China tidak lagi hanya menjadi pengikut dalam industri AI. Dengan kemampuan penelitian yang semakin kuat dan optimalisasi teknologi yang terus berkembang, perusahaan AI China mulai mampu mendekati performa perusahaan-perusahaan Amerika Serikat.

Jika tren tersebut terus berlanjut, persaingan AI global ke depan kemungkinan tidak lagi hanya didominasi satu negara. Amerika Serikat masih memiliki posisi kuat, tetapi China semakin menunjukkan kemampuan untuk menjadi pesaing utama dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
H

Ditulis oleh

Herman

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait