Kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan robotika semakin pesat. Kini robot humanoid mulai menggantikan pekerjaan manusia di sektor perhotelan. Beberapa hotel berbintang di Indonesia dan dunia telah mulai menerapkan robot humanoid untuk tugas-tugas operasional sehari-hari, memicu kekhawatiran akan gelombang pengangguran massal di masa depan.
Menurut laporan terbaru dari International Federation of Robotics (IFR) per Mei 2026, adopsi robot humanoid di industri jasa meningkat drastis dalam dua tahun terakhir. Di Indonesia, setidaknya lima hotel besar di Jakarta, Bali, dan Surabaya telah menguji coba robot humanoid untuk menggantikan sebagian pekerjaan frontliner dan housekeeping.
Salah satu contoh nyata adalah Hotel Luminar Jakarta yang mulai mengerahkan robot humanoid buatan perusahaan China, Unitree Robotics, sejak Maret 2026. Robot bernama Go2-Humanoid ini bertugas sebagai resepsionis, melayani tamu check-in dan check-out, serta memberikan informasi seputar fasilitas hotel. Robot ini mampu berbicara dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Mandarin dengan sangat lancar.
“Robot ini bekerja 24 jam tanpa lelah, tidak pernah absen, dan biaya operasionalnya jauh lebih murah dalam jangka panjang,” ujar General Manager Hotel Luminar, Surya Wijaya. Menurutnya, satu robot humanoid dapat menggantikan dua hingga tiga karyawan manusia dalam shift yang sama.
Tidak hanya resepsionis, robot humanoid juga mulai digunakan untuk membersihkan kamar. Di Bali, salah satu resort mewah telah menggunakan robot dengan lengan fleksibel untuk membersihkan lantai, mengganti seprai, dan mengisi kulkas minibar. Hasilnya, efisiensi housekeeping meningkat hingga 40 persen, sementara keluhan tamu terkait kebersihan justru menurun.
Perkembangan ini menuai pro dan kontra. Di satu sisi, hotel dapat memangkas biaya tenaga kerja secara signifikan. Namun di sisi lain, ribuan pekerja hotel terancam kehilangan pekerjaan. Asosiasi Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) memperkirakan bahwa dalam 3-5 tahun ke depan, sekitar 25-30 persen pekerjaan di sektor perhotelan berisiko digantikan oleh robot. Banyak karyawan merasa cemas. Ani (34), seorang housekeeper di hotel bintang empat di Surabaya, mengatakan, “Saya sudah bekerja di sini 12 tahun. Kalau diganti robot, saya harus ke mana? Saya punya anak sekolah.” Kekhawatiran serupa juga dirasakan oleh staf front office yang selama ini mengandalkan interaksi langsung dengan tamu.
Namun, tidak semua pihak pesimis. Beberapa ahli berpendapat bahwa robot justru akan menciptakan pekerjaan baru di bidang pemrograman, pemeliharaan robot, dan manajemen data. “Robot humanoid masih butuh pengawasan manusia. Mereka tidak bisa menangani situasi kompleks, keluhan emosional tamu, atau keputusan kreatif,” kata Dr. Rina Pratiwi, pakar robotika dari Institut Teknologi Bandung (ITB).
Meski semakin canggih, robot humanoid masih memiliki banyak keterbatasan. Mereka kesulitan menangani tamu yang marah, situasi darurat, atau tugas yang memerlukan empati tinggi. Selain itu, biaya awal pembelian dan pemeliharaan robot masih sangat mahal, sehingga hanya hotel besar yang mampu mengadopsinya. Pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan mulai menyusun regulasi tentang penggunaan robot di sektor jasa. Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah, menyatakan bahwa pemerintah akan mendorong pelatihan ulang (reskilling) bagi pekerja yang terdampak agar bisa beralih ke pekerjaan yang lebih kompleks. “Transformasi teknologi tidak bisa dihindari, tapi kita harus memastikan tidak ada yang tertinggal,” tegasnya dalam konferensi pers baru-baru ini.
Para pakar memprediksi bahwa dalam 10 tahun mendatang, robot humanoid akan semakin dominan tidak hanya di hotel, tetapi juga di restoran, rumah sakit, dan ritel. Tesla dengan Optimus-nya, Figure AI, dan Agility Robotics disebut-sebut sebagai pemain utama yang akan mempercepat revolusi ini. Di Indonesia, peluang besar terbuka bagi perusahaan lokal untuk mengembangkan robot yang sesuai dengan kebutuhan budaya dan bahasa nasional. Namun, tantangan etika dan sosial harus menjadi perhatian utama agar kemajuan teknologi tidak justru memperlebar kesenjangan sosial.
Perkembangan robot humanoid di sektor perhotelan menjadi sinyal awal bahwa era di mana mesin mulai menguasai pekerjaan manusia telah dimulai. Masyarakat dan pemerintah perlu bersiap menghadapi perubahan besar ini dengan strategi yang matang, agar kemajuan teknologi benar-benar membawa kesejahteraan bagi semua pihak.